Logo Bloomberg Technoz

Menurut Audrey, eksklusi saham GOTO dari indeks MSCI lantaran harga saham perseroan yang berada di level terendah Rp50 per saham sejak Mei 2026 lalu.

Harga saham yang menyentuh batas bawah bursa itu diikuti dengan volume perdagangan yang rendah.

“Tidak disebabkan oleh kinerja perseroan, kinerja kami di kuartal kedua justru mencatatkan laba bersih dua kuartal berturut-turut,” kata Audrey.

Adapun, GOTO berhasil mencetak laba bersih mencapai Rp607 miliar dan pendapatan bersih Rp10,99 triliun sepanjang semester I-2026.

Pendapatan terbesar GOTO disumbang jasa pengiriman sebesar Rp3,2 triliun (+16,5%), lalu imbalan jasa Rp3,15 triliun (+14,9%), dan pendapatan pinjaman Rp2,71 triliun (+65%).

Sumbangan pendapatan lain yakni dari pendapatan e-commerce service fee PT Tokopedia Rp551 miliar (+32,3%) dan pendapatan iklan Rp254 miliar (+8%). 

Sisanya pendapatan lain-lain mencapai Rp1,13 triliun atau melesat 46,5% dari periode semester I tahun lalu.

“Keputusan peninjauan indeks dilakukan secara berkala dan kami akan terus menjalin dialog aktif dengan MSCI,” kata Audrey.

“Sementara itu, kami akan tetap fokus mengelola bisnis untuk menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemegang saham,” kata dia.

Alasan MSCI

Eksklusi terhadap saham GOTO dilakukan terkait dengan adanya  potensi masalah dalam replikasi indeks atau index replicability.

Masalah itu berkaitan dengan likuiditas saham GOTO yang relatif rendah di pasar lantaran saham itu diperdagangkan pada harga perdagangan mininum Rp50 di Bursa Efek Indonesia sejak penutupan perdagangan 13 Mei 2026.

“Perlakuan ini dilakukan karena adanya potensi masalah dalam replikasi indeks,” dikutip dari keterangan resmi MSCI.

Mengutip Bloomberg News, potensi dikeluarkannya GOTO dari indeks MSCI dapat membebani pasar saham Indonesia secara lebih luas, yang telah anjlok sekitar 27% sepanjang tahun ini dalam aksi jual yang dipicu oleh peringatan MSCI pada Januari mengenai kemungkinan penurunan status pasar Indonesia.

Pergerakan saham GOTO di bursa. (Bloomberg)

Bahkan jika GOTO benar-benar dikeluarkan dari MSCI, reksa dana atau dana pasif yang berinvestasi di GOTO—yang pada akhir Juli menyumbang sekitar 4% dari MSCI Indonesia Index—mungkin akan kesulitan keluar dari posisi mereka karena jumlah penjual kemungkinan jauh lebih besar daripada pembeli.

“GOTO adalah kisah kurang beruntung tentang sebuah perusahaan yang pernah menjadi juara nasional tetapi kemudian jatuh dari kejayaannya,” kata Angus Mackintosh, analis di Aletheia Capital.

“Pemangkasan dari MSCI pada tahap ini tidak akan banyak berpengaruh, mengingat sahamnya secara efektif sudah tersuspensi. Tidak ada lagi ruang untuk turun lebih rendah.”

Dikeluarkannya GOTO dari indeks-indeks MSCI akan menjadi pukulan terbaru bagi perusahaan tersebut setelah bertahun-tahun mengalami kerugian besar akibat persaingan dengan pesaing yang memiliki modal kuat, seperti Grab Holdings Ltd.

Serangkaian restrukturisasi dan pergantian kepemimpinan telah membantu perusahaan membukukan laba kuartalan untuk kedua kalinya secara berturut-turut, bahkan ketika tekanan terhadap laba semakin meningkat akibat kenaikan harga minyak yang dipicu oleh perang di Timur Tengah.

Likuiditas saham GOTO di bursa. (Bloomberg)

GOTO, yang didukung oleh Alibaba Group Holding Ltd., pernah menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di Indonesia, dengan kapitalisasi pasar yang sempat menembus US$32 miliar tak lama setelah pencatatan sahamnya di Indonesia pada April 2022.

Namun, optimisme terhadap prospek pertumbuhan perusahaan tersebut tidak bertahan lama. Kekhawatiran mengenai jalur GOTO menuju profitabilitas dan disiplin keuangannya meredam antusiasme investor.

Berbagai upaya untuk meningkatkan aktivitas perdagangan dan mencegah penghapusan GoTo dari indeks—termasuk dorongan MSCI agar bursa Indonesia menghapus batas bawah harga saham (price floor)—sejauh ini belum membuahkan hasil, menurut orang-orang yang mengetahui masalah tersebut. Mereka meminta untuk tidak disebutkan namanya karena alasan kerahasiaan.

Hans Patuwo, yang menjadi CEO GOTO pada akhir tahun lalu setelah adanya dorongan dari sejumlah pemegang saham besar untuk menyingkirkan pendahulunya, telah berjanji untuk membalikkan kondisi perusahaan.

Perusahaan tersebut juga mempertimbangkan reverse stock split sebagai salah satu cara untuk meningkatkan harga saham, setelah mengumumkan rencana buyback saham hingga Rp3,5 triliun (US$196 juta) serta rencana untuk membatalkan saham treasuri.

“Kami ingin memastikan kondisi makroekonomi sudah tepat sehingga ketika kami menggunakan dana tersebut, dampak yang dihasilkan sesuai dengan yang kami harapkan.”

(naw)

No more pages