Apabila ditarik satu pekan terakhir, UBS Sekuritas Indonesia (AK) menjadi pengepul utama saham DSSA.
AK memborong 2,4 juta lot saham DSSA dengan harga rata-rata Rp964 per saham. Manuver itu mencerminkan nilai investasi sekitar Rp227,4 miliar.
Sementara itu, BK dan ZP turut aktif mengakumulasi saham DSSA selama satu pekan terakhir.
BK memborong 1,5 juta lot saham DSSA dengan tebusan Rp150,6 miliar dan ZP memborong 412,2 ribu lot saham DSSA dengan nilai investasi Rp45 miliar.
Di sisi lain, broker lokal seperti Stockbit Sekuritas Digital (XL) dan Mandiri Sekuritas (CC) aktif menjual posisinya di DSSA sepekan terakhir. XL melepas 1,2 juta lot saham DSSA sementara CC melego 463,6 ribu lot saham.
Dari lantai bursa, saham DSSA menguat 25,48% ke level Rp985 per saham sepekan terakhir. Kendati demikian, saham DSSA telah merosot 75,62% tahun ini.
Target Baru
Sebelumnya, Pluang Maju Sekuritas menyematkan posisi buy untuk saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan target harga Rp1.145 per saham.
Target harga itu dihitung menggunakan metode sum-of-the parts (SOTP) yang menggabungkan valuasi GEMS, aset panas bumi, pusat data SM+, DANA, XLSmart dan Roliemex.
Tim riset Pluang Maju Sekuritas berpendapat sejumlah katalis utama yang berpotensi mendorong re-rating saham DSDA. Misalkan, terkait operasi komersial aset panas bumi dan masuknya penyewa utama atau anchor tenant bagi pusat data SM+.
“Kami memperkirakan pendapatan dari bisnis panas bumi akan meningkat dari US$316.900 pada 2025 menjadi US$83,7 juta pada 2030,” dikutip dari riset Pluang Maju Sekuritas, Selasa (21/7/2026).
Selain itu, DSSA juga mengembangkan fasilitas manufaktur sel dan modul surya terintegrasi berkapasitas 1-2 gigawatt (GW) di Kendal lewat perusahaan patungan Trina Solar dan PLN.
Di sisi lain, pendapatan dari bisnis TV kabel, internet, teknologi diperkirakan meningkat dari US$211,8 juta pada tahun 2025 menjadi US$1,4 miliar pada 2030.
“Kombinasi antara pasokan listrik hijau dan konektivitas berlatensi rendah itu dinilai menjadi satu-satunya solusi di Indonesia yang mampu memenuhi komitmen carbon-free energy perusahaan hyperscaler pada 2030,” kata tim riset Pluang.
Dengan Axiata memiliki pengaruh operasional sehari-hari atas XLSmart, risiko transfer pricing antara entitas afiliasi DSSA dan perusahaan telekomunikasi tercatat tersebut dinilai lebih terkendali.
Selain itu, basis data milik DANA yang mencakup sekitar 200 juta pengguna disebut sebagai satu-satunya kumpulan data AI Indonesia yang lengkap, mencakup informasi pembayaran, lokasi, kredit, hingga pola belanja.
“Kami menilai bisnis-bisnis baru DSSA memiliki margin yang secara struktural lebih tinggi dan lebih stabil dibandingkan bisnis batu bara. Karena itu, kami memperkirakan margin laba bersih DSSA meningkat dari 8,3% pada FY25 menjadi 13,6% pada FY30F,” dikutip dari riset.
Tim riset Pluang memperkirakan XLSmart berubah dari beban laba sekitar Rp4,4 triliun pada 2025 akibat integrasi merger menjadi kontribusi positif sekitar Rp1,1 triliun pada 2027.
“Seiring terealisasinya sinergi penghematan biaya operasional sebesar Rp820 miliar,” dikutip dari riset.
Sementara itu, MyRepublic diperkirakan mencapai titik operating leverage pada FY30F ketika jaringannya menjangkau sekitar 32 juta home pass.
“Sehingga penambahan pelanggan baru dapat dilakukan dengan biaya infrastruktur yang nyaris nol,” dikutip dari riset.
(naw)
































