BBCA berperan sebagai facility agent sedangkan BMRI berperan sebagai security agent. Keduanya juga bertindak sebagai joint mandatated lead arranger, underwriter dan bookrunner atas fasilitas sindikasi tersebut.
Pinjaman itu dibagi menjadi fasilitas A dengan plafon sekitar Rp2,14 triliun, fasilitas B sekitar Rp1,24 triliun dan kredit modal kerja sekitar Rp1,61 triliun.
Kredit sindikasi itu rencanannya akan dipakai DEWA untuk modal kerja, pembiayaan kembali dan pembelian peralatan pertambangan.
Hanya saja, DEWA mesti menjaga kondisi keuangan sebagai bagian dari perjanjian kredit di antaranya rasio lancar modifikasian minimal 1 kali, rasio EBITDA to (interest expense + current portion of long-term debt) minimal 1,25 kali dan rasio total debt to equity maksimal 3 kali.
Belakangan DEWA melanggar perjanjian rasio lancar modifikasian. Pelanggaran covenants itu mengindikasikan struktur likuiditas jangka pendek DEWA yang makin ketat lantaran kenaikan utang jatuh tempo jumbo.
Mengutip laporan keuangan perseroan, current ratio DEWA per 30 Juni berada pada kisaran 0,71 kali, mencerminkan aset lancar Rp3,15 triliun sementara liabilitas lancar mencapai Rp4,44 triliun.
Rasio ini belakangan jebol lantaran jatuh tempo kredit dalam waktu satu tahun yang melonjak ke level Rp2,16 triliun per Juni 2026, naik 2,6 kali lipat dari porsi jangka pendek fasilitas lama sekitar Rp835 miliar akhir Desember 2025.
Sementara itu, posisi kas DEWA terkuras relatif signifikan untuk pelunasan pinjaman lama Rp3,88 triliun, buyback saham Rp791,4 miliar dan belanja modal mesin atau peralatan sekitar Rp1,1 triliun.
Posisi kas DEWA susut ke level Rp644 miliar, dari sebelumnya Rp1,59 triliun awal tahun ini.
Kendati likuiditas makin ketat, DEWA mampu mencetak laba bersih Rp354,28 miliar pada paruh pertama tahun ini. Torehan laba itu naik 89% dibandingkan dengan posisi periode yang sama tahun lalu sekitar Rp187,44 miliar.
Laba yang makin tebal itu ditopang dengan pendapatan sebesar Rp3,2 triliun dengan beban pokok pendapatan yang relatif susut ke level Rp2,59 triliun. Laba bruto DEWA naik 23,45% ke level Rp612,16 miliar.
(naw)
































