“Kami hanya bernegosiasi secara setengah-setengah dengan mereka,” katanya. “Kami hanya mengamati Iran dengan inflasi yang sangat tinggi dan fakta bahwa mereka tidak punya uang.” Pernyataan Trump pada Minggu disampaikan setelah selama berminggu-minggu dia mengancam akan melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran, tetapi kemudian mundur dengan alasan ingin memberikan kesempatan bagi perundingan.
Inflasi tahunan Iran baru-baru ini mencapai 77 persen, menurut bank sentral Iran.
Teheran pada Sabtu kembali meningkatkan tekanan dengan memperbarui daftar panjang tuntutan terhadap Washington sebagai syarat pembukaan penuh Selat Hormuz. Hal ini mengindikasikan bahwa pemulihan pasokan minyak dan gas dalam waktu dekat mungkin masih terbatas.
Selat Hormuz, yang menjadi jalur pengiriman seperlima minyak dan gas dunia, telah menjadi faktor kunci dalam perang yang dimulai AS dan Israel pada 28 Februari. Trump selama berbulan-bulan menuntut agar pelayaran bebas di selat tersebut kembali dibuka.
Karena kesepakatan masih sulit tercapai, situasi di Timur Tengah tetap bergejolak pada Minggu. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah menyerang kilang minyak Saudi Aramco di Jizan, Arab Saudi. Otoritas Saudi sebelumnya melaporkan kebakaran di fasilitas tersebut, tetapi api dengan cepat berhasil dipadamkan dan tidak ada korban luka yang dilaporkan.
Wakil Presiden AS JD Vance pada Sabtu mengatakan ada kemajuan dalam perundingan baru-baru ini, tetapi tetap skeptis. Menurut dia, pertanyaannya adalah apakah Iran akan mampu “memberikan hal-hal yang diperlukan agar kami puas, agar kami merasa telah mendapatkan apa yang kami butuhkan dari keterlibatan khusus ini,” katanya kepada Fox News.
Washington berulang kali menyatakan bahwa pengelolaan Hormuz merupakan salah satu hal yang dibahas dalam perundingan, tetapi Iran membantahnya.
“Beberapa negara perantara sedang berupaya membangun kembali landasan untuk perundingan,” kata Araghchi, seperti dikutip pada Minggu. “Saat ini, kami tidak sedang berunding dengan AS—pertukaran pesan berlangsung melalui perantara.”
Oman, yang berbatasan dengan Iran di seberang selat tersebut, mengatakan perundingannya dengan Teheran berlangsung dalam “suasana yang positif dan konstruktif”. Dalam unggahan di X, otoritas Oman menyerukan penghentian tindakan di selat tersebut untuk memberikan ruang bagi upaya diplomatik.
Tuntutan Iran mencakup pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, penarikan pasukan militer AS dari sekitar Iran, pencabutan sanksi, pembebasan aset yang dibekukan, serta pembayaran kompensasi atas kerusakan akibat perang, menurut Mohammad Bagher Zolghadr, tokoh garis keras yang memimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Lalu lintas melalui titik sempit strategis tersebut sebagian besar terhenti sejak perang dimulai. Namun, sejumlah kapal masih terus mengangkut kargo sebagai bagian dari program pengiriman bergilir yang melibatkan bantuan militer AS.
Harga minyak bergerak naik-turun sepanjang pekan lalu. Harga Brent akhirnya ditutup di atas US$83 per barel ketika pelaku pasar mempertimbangkan prospek kesepakatan yang diperkirakan dapat membuka jalan bagi pemulihan pasokan jutaan barel minyak dari Teluk Persia.
Ketegangan Memanas
Ketegangan meningkat di Laut Merah bagian selatan dalam beberapa pekan terakhir. Pemberontak Houthi di Yaman mengumumkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi, yang merupakan jalur ekspor alternatif penting bagi minyak kerajaan tersebut.
Kebakaran di kilang Jizan setidaknya menjadi insiden kebakaran kedua dalam sebulan terakhir di fasilitas milik Aramco tersebut. Citra satelit menunjukkan kebakaran di sebuah tangki di kompleks berkapasitas 400.000 barel per hari itu pada akhir Juli, setelah Houthi mengklaim telah melancarkan serangan.
Setiap kesepakatan terkait Hormuz harus mendapat persetujuan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, yang belum terlihat di hadapan publik sejak perang dimulai.
Khamenei pada Minggu mengatakan telah bertemu dengan Presiden Masoud Pezeshkian, yang dukungannya terhadap kesepakatan gencatan senjata dengan AS menuai kritik dari kelompok garis keras Iran. Keduanya membahas perang dan perekonomian, kata Khamenei dalam unggahan di X.
Konflik selama berbulan-bulan telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran, serta mengguncang tatanan keamanan di seluruh kawasan Timur Tengah.
(bbn)
































