BRIN memaparkan teknologi pengolah sampah plastik menjadi solar tersebut menggunakan mesin pirolisis. Teknologi ini disebut memiliki sejumlah kapasitas pengolahan dengan rasio sampah dan hasil olahan BBM mencapai 1:1.
Kapasitas pengolahan 5 kilogram (kg) diklaim dapat menghasilkan 5 liter solar, 50 kg menghasilkan 50 liter, 100 kg menghasilkan 100 liter, 200 kg menghasilkan 200 liter, dan 500 kg menghasilkan 500 liter.
Dari sisi biaya, BRIN menyebut teknologi pengolah sampah plastik menjadi solar tersebut mencapai Rp150 juta untuk kapasitas pengolahan 50 kg. Sementara itu, teknologi dalam skala kecil disebut mencapai Rp50 juta. “Iya, [Rp150 juta] untuk 50 kilo. Di desa nelayan ini sudah dipasang sekitar 80 unit, Pak Presiden,” terang peneliti BRIN.
Solar dari Sampah Plastik Sudah Masuk Industri Komersial
Pada salah satu penelitian Monash University dalam publikasinya tahun 2019 juga telah melakukan konversi limbah plastik menjadi bahan bakar melalui pirolisis, yang dipimpin Profesor Teknik Kimia Sankar Bhattacharya.
Monash mencatat Bhattacharya memiliki bidang riset yang mencakup pirolisis plastik dan ban untuk produksi bahan bakar serta bahan kimia.
Pada 2017, tim Bhattacharya menerbitkan penelitian mengenai thermo-catalytic pyrolysis limbah plastik menggunakan reaktor kontinu. Penelitian tersebut menguji berbagai jenis plastik dan katalis untuk menghasilkan produk bahan bakar. Salah satu katalis yang diuji menghasilkan selektivitas tinggi terhadap fraksi diesel.
Tidak berhenti pada penelitian laboratorium, Monash pada 2020 juga melaporkan pengembangan proses pengolahan plastik dan ban bekas menjadi sumber daya berupa bahan bakar cair dan gas.
Dalam pengembangan tersebut, tim Bhattacharya telah membangun sistem pemrosesan yang menghasilkan minyak secara kontinu. Minyak dari limbah plastik campuran juga diuji pada mesin diesel dengan mencampurkannya bersama diesel komersial.
Kampus asal Australia tersebut menyebut bahwa mesin dapat menyala dengan lancar dan memiliki performa stabil pada pengujian tersebut. Bhattacharya mengatakan, sebagian besar plastik yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dapat diproses menjadi bahan bakar cair.
“Sebagian besar plastik yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari – berbagai jenis polietilen, polipropilen, polistiren, dan bahkan polivinil klorida, sampai batas tertentu – dapat diolah menjadi bahan bakar cair,” kata Bhattacharya.
Monash selanjutnya membangun prototipe fasilitas pengolahan yang dapat mengubah plastik dan ban bekas menjadi bahan bakar diesel.
Konversi ini pun telah terus berkembang mengarah ke teknologi komersial. Salah satunya ditawarkan Henan Doing, perusahaan yang bergerak di bidang peralatan pengolahan limbah dan teknologi pirolisis.
Teknologi yang Henan Doing tawarkan mencakup pengolahan limbah plastik menjadi minyak pirolisis, kemudian dilanjutkan dengan proses distilasi untuk menghasilkan bahan bakar diesel.
Dalam proses tersebut, limbah plastik dimasukkan ke dalam reaktor pirolisis dan dipanaskan dalam kondisi minim atau tanpa oksigen. Rantai polimer kemudian terurai menjadi molekul yang lebih kecil sehingga menghasilkan minyak pirolisis dan gas.
Minyak pirolisis selanjutnya dapat dimurnikan melalui proses distilasi untuk memperoleh fraksi bahan bakar yang sesuai.
Cara Sampah Plastik Diubah Jadi BBM Diesel
Secara umum, proses tersebut dilakukan melalui beberapa tahapan.
1. Limbah plastik dimasukkan ke reaktor
Limbah plastik dimasukkan ke dalam reaktor pirolisis secara manual atau menggunakan sistem pengumpan otomatis.
2. Reaktor dipanaskan
Reaktor dipanaskan menggunakan sumber energi tertentu. Pemanasan dilakukan untuk memutus ikatan molekul polimer pada plastik sehingga material tersebut terurai menjadi molekul yang lebih kecil.
3. Gas minyak dikondensasikan
Setelah proses pemanasan, limbah plastik berubah menjadi gas minyak. Gas tersebut kemudian dialirkan melalui sistem pendingin dan kondensor hingga berubah menjadi cairan.
Hasilnya berupa minyak pirolisis atau minyak bakar. Untuk menghasilkan fraksi diesel, minyak tersebut dapat diproses lebih lanjut melalui distilasi, pengendalian suhu, dan penggunaan katalis.
“Jika Anda ingin mendapatkan bahan bakar diesel berkualitas tinggi yang berbeda secara terpisah, melalui teknologi distilasi, pengendalian suhu, dan proses katalis, kita bisa mendapatkan bahan bakar diesel non-standar berkualitas tinggi,” demikian penjelasan dalam materi teknologi pengolahan limbah plastik.
4. Gas yang tidak dapat dicairkan digunakan kembali
Sebagian gas hasil proses tidak dapat dicairkan pada tekanan dan suhu normal. Gas tersebut dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi untuk membantu proses pemanasan reaktor.
5. Asap diproses melalui sistem pengendalian emisi
Proses pemanasan menghasilkan asap yang kemudian dialirkan ke sistem pengendalian emisi. Sistem tersebut dapat mencakup penghilangan debu, pembersihan gas buang, dan pengendalian emisi.
6. Gas buang dilepaskan melalui cerobong
Setelah melalui proses pemurnian, gas buang dialirkan menuju cerobong sebelum dilepaskan ke lingkungan sesuai dengan standar yang berlaku.
(dec/wep)
































