NASA juga memanfaatkan gerhana tahun ini untuk menjalankan serangkaian eksperimen. Salah satunya dengan menerbangkan pesawat riset WB-57 hingga ketinggian sekitar 50.000 kaki membawa seperangkat kamera beresolusi tinggi guna memotret korona dari atas awan.
Posisi tersebut memungkinkan instrumen menangkap panjang gelombang inframerah tertentu yang umumnya terserap atmosfer bawah sehingga sulit diamati dari permukaan Bumi.
Selain itu, puluhan balon cuaca akan diterbangkan untuk mengamati dampak hilangnya sinar Matahari secara tiba-tiba terhadap atmosfer Bumi. Pengukuran mencakup perubahan suhu, dinamika awan, hingga respons lapisan atmosfer yang diperkirakan berubah selama beberapa menit ketika Matahari tertutup Bulan.
Pengamatan terhadap korona juga berperan penting dalam memahami asal-usul angin Matahari (solar wind), yaitu aliran partikel bermuatan yang terus dipancarkan Matahari ke seluruh tata surya. Aktivitas tersebut berkaitan erat dengan cuaca antariksa yang dapat memengaruhi satelit, sistem navigasi, komunikasi radio, hingga jaringan kelistrikan di Bumi.
Meski berbagai wahana antariksa seperti Parker Solar Probe dan Solar Orbiter telah mengamati Matahari dari jarak dekat, pengamatan saat gerhana matahari total masih dianggap memiliki keunggulan tersendiri.
Gerhana memungkinkan ilmuwan memperoleh citra korona dalam cahaya tampak dengan rentang pengamatan yang sulit dicapai menggunakan instrumen koronagraf di luar angkasa, sehingga menjadi pelengkap bagi misi-misi antariksa tersebut.
Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 akan melintasi jalur sepanjang sekitar 8.200 kilometer yang membentang dari kawasan Arktik hingga Semenanjung Iberia. Totalitas terlama diperkirakan berlangsung sekitar dua menit 18 detik di sejumlah wilayah Spanyol. Sementara itu, Indonesia tidak berada di jalur pengamatan gerhana ini sehingga fenomena tersebut tidak dapat disaksikan dari dalam negeri.




























