Logo Bloomberg Technoz

Pejabat The Fed pada pekan lalu memilih mempertahankan suku bunga, meski tiga pembuat kebijakan berbeda pendapat karena menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Daly tidak memiliki hak suara dalam Federal Open Market Committee (FOMC), komite penentu suku bunga The Fed, tahun ini. Namun, dia tetap berpartisipasi dalam pembahasan kebijakan moneter.

Para pejabat The Fed masih terpecah mengenai risiko yang ditimbulkan tekanan inflasi dan cara mengatasinya. Sejumlah pejabat, seperti Daly, masih menilai dampak tarif, lonjakan harga minyak, dan pesatnya investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) kemungkinan bersifat terbatas dan pada akhirnya akan mereda. Sementara pejabat lainnya melihat indikasi bahwa inflasi dari faktor-faktor tersebut telah meluas ke sektor ekonomi lainnya.

Dua Skenario

Dalam pernyataannya, Daly memaparkan dua kemungkinan arah inflasi. Pada skenario pertama, yang menurut Daly masih menjadi kemungkinan paling besar, inflasi hanya berlangsung sementara sehingga The Fed dapat terus mempertahankan suku bunga pada level saat ini.

Namun, ia memperingatkan kemungkinan skenario kedua, di mana kenaikan harga akibat tarif impor, melonjaknya biaya energi, serta investasi AI yang terus berlanjut berakumulasi secara bersamaan. Jika itu terjadi, inflasi akan menjadi lebih luas dan persisten, sehingga menuntut tindakan yang lebih agresif dari The Fed.

Daly mengatakan pembuat kebijakan perlu memantau secara cermat kemungkinan terjadinya skenario kedua serta memperhatikan data yang masuk dalam beberapa pekan mendatang.

“Jika kita mendapati bahwa skenario kedua mulai terjadi, saya pikir pertanyaannya adalah, ‘mengapa melakukannya secara bertahap?’” katanya, merujuk pada kemungkinan kenaikan suku bunga. Dia menambahkan bahwa dalam kondisi tersebut, akan lebih baik jika kebijakan disesuaikan secepat mungkin.

Daly juga memperingatkan bahwa meskipun ekspektasi inflasi jangka panjang saat ini masih terjaga dengan baik, kenaikan lain di area tersebut—menyusul lonjakan yang terjadi setelah inflasi 2022—dapat terbukti semakin menyulitkan para pembuat kebijakan untuk mengembalikannya ke batas normal.

(bbn)

No more pages