Logo Bloomberg Technoz

“Negara kita ini kan menganut asas bebas aktif. Kita tidak mendikte negara lain, tetapi negara lain juga tidak boleh mendikte kita, ya. Independensi negara kita harus kita jaga sebagai bagian daripada pengabdian kita kepada Ibu Pertiwi,” ujar dia.

An oil pumping jack in an oil field in Russia. (Photographer: Andrey Rudakov/Bloomberg)

Impor minyak mentah asal Rusia yang dilakukan Indonesia melalui badan layanan umum (BLU) Lemigas resmi tercatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Pada Juni 2026, BPS mencatat impor crude dari Rusia memang benar masuk melalui pelabuhan Balikpapan.

Berdasarkan data impor minyak mentah BPS yang masuk ke kode HS 27090010 (crude petroleum), Indonesia mengimpor sekitar 103.669 ton minyak mentah dari Rusia pada Juni 2026 dengan nilai US$75,34 juta atau setara Rp1,36 triliun (kurs hari ini).

Dilaporkan Bloomberg Technoz sebelumnya, minyak mentah asal Rusia jenis Eastern Siberia–Pacific Ocean (ESPO) terdeteksi telah memasuki Indonesia melalui Pelabuhan Lawe-Lawe usai diangkut melalui kapal tanker Sierra berbendera Kamerun.

Berdasarkan data Big Trade Data yang direkapitulasi Bloomberg, sebanyak 770.000 barel minyak telah dikirim ke pelabuhan di Kalimantan Timur tersebut pada 29 Juni 2026, dengan nilai sekitar US$75 juta.

Volume minyak mentah Rusia yang didatangkan Indonesia tersebut selaras dengan data BPS, sebab volume impor sekitar 103.669 ton jika dikonversi dengan memperhitungkan API gravity minyak ESPO sebesar 34° setara dengan sekitar 760.000–770.000 barel.

Untuk diketahui, Pelabuhan Lawe-Lawe merupakan salah satu pintu masuk crude ke Kilang Balikpapan. PT Pertamina Patra Niaga (PPN) tercatat memiliki dua tangki penyimpanan minyak mentah di terminal Lawe-Lawe dengan kapasitas masing-masing 1 juta barel.

Selain itu, PPN juga memiliki fasilitas single point mooring (SPM) dengan kapasitas 320.000 dead weight ton (dwt). Fasilitas SPM tersebut tersambung dengan pipa ke pelabuhan Lawe-Lawe dan dari pelabuhan tersebut menuju Kilang Balikpapan.

Berdasarkan pantauan data pelayaran Marine Traffic, tanker Sierra telah meninggalkan Lawe-Lawe pada 30 Juni 2026. Saat ini tanker tersebut sudah berada kembali ke area labuh jangkar di Pelabuhan Vladivostok, Rusia.

Kapal pengangkut minyak mentah tersebut tercatat terkena sanksi oleh sejumlah negara, antara lain, di antaranya: Inggris, Uni Eropa (UE), Kanada, Australia, Ukraina, hingga Selandia Baru.

Dalam perkembangannya, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan minyak mentah yang diimpor dari Rusia akan dilakukan pencampuran menjadi Indonesia Blend.

Yuliot mengatakan pengadaan minyak mentah yang dilakukan Indonesia bisa dilakukan dengan skema Indonesia Blend, yakni minyak mentah yang diterima dari pemasok merupakan pasokan hasil pencampuran.

“Untuk pengadaan minyak itu kan ada Indonesia Blend. Indonesia Blend itu kan minyak itu kan melalui supplier yang ada. Jadi supplier yang ada yang kita terima dalam negeri adalah dalam bentuk blending, Nusantara Blending,” kata Yuliot kepada awak media, di Kompleks DPR, Kamis (16/7/2026).

“Kalau untuk kerja sama antarnegara itu mekanismenya adalah melalui BLU sektor energi, jadi kalau BLU sektor energi itu ada yang ini Lemigas,” tegasnya.

Yuliot juga memastikan impor minyak mentah Rusia yang dilakukan Lemigas bakal disimpan pada tangki penyimpanan untuk dijadikan cadangan penyangga energi (CPE).

(azr/wdh)

No more pages