Logo Bloomberg Technoz

Data produk domestik bruto (PDB) Filipina akan dirilis pada Jumat. Ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya sedikit meningkat pada kuartal II, setelah merosot menjadi 2,8% pada tiga bulan pertama 2026. Kondisi tersebut membuat Filipina menjadi salah satu negara dengan kinerja ekonomi paling lemah di kawasan.

Harga-harga di Filipina masih meningkat sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan negara-negara besar lainnya di Asia Tenggara, akibat ketergantungan negara tersebut terhadap minyak dari Timur Tengah yang harganya melonjak karena perang Iran yang berkepanjangan. Pelemahan peso, yang bulan lalu mencapai rekor terendah 61,85 per dolar AS, juga meningkatkan biaya impor.

Inflasi inti turun 0,2% pada Juli setelah mencatat kenaikan selama enam bulan berturut-turut. Data juga menunjukkan inflasi harga konsumen utama hanya naik 0,1% pada Juli dibandingkan bulan sebelumnya, lebih rendah dari perkiraan 0,3%. Sementara itu, harga konsumen inti naik 4,2% secara tahunan.

Namun, sejumlah komponen masih mengalami tekanan inflasi. Harga beras melonjak 17,1% pada Juli dibandingkan setahun sebelumnya, menegaskan tekanan biaya hidup yang dihadapi sekitar 113 juta penduduk Filipina.

Gubernur BSP Eli Remolona mengisyaratkan masih ada ruang untuk menaikkan biaya pinjaman sekali lagi, meski peluang pengetatan agresif dinilai kecil. Bank sentral sebelumnya memproyeksikan inflasi Juli berada di kisaran 5,6%-6,6%, dengan mempertimbangkan tingginya harga bahan bakar dan depresiasi peso.

(bbn)

No more pages