Logo Bloomberg Technoz

secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 mengalami peningkatan 3,73%, setelah sempat terkontraksi juga 0,77% pada kuartal pertama. Secara kumulatif, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,45% pada semester I 2026.

“Ini sejalan dengan pola yang terjadi sebelum-sebelumnya,” kata Edy.

Dari sisi lapangan usaha, seluruhnya mengalami pertumbuhan positif, kecuali pertambangan. Lapangan usaha utama yang memberi kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) adalah industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan dengan total mencakup 63,73% dari total PDB Indonesia.

Lapangan usaha yang tumbuh tinggi yaitu pengadaan listrik dan gas, yakni sebesar 10,81%, ditopang oleh penjualan listrik untuk semua segmen konsumen, utamanya segmen rumah tangga bisnis dan industri.

Selanjutnya, penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 10,6%, didorong peningkatan okupansi hotel dan kinerja jasa boga, sejalan semakin luasnya jangkauan penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kemudian, industri informasi dan komunikasi tumbuh didorong oleh semakin luasnya pemanfaatan jasa telekomunikasi di berbagai sektor, seperti kesehatan, pendidikan, perdagangan, dan lainnya.

Sebelumnya, konsensus Bloomberg memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1% secara tahunan (yoy). Melambat dari 5,61% pada kuartal sebelumnya.

Di sisi lain, secara kuartalan (quarter-to-quarter/qoq), ekonomi diproyeksikan bangkit 3,51% setelah sempat terkontraksi 0,77% pada kuartal I.

Proyeksi Bloomberg Economics lebih optimistis, yakni 5,42% yoy. Namun, angka ini tetap lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,61% yang tercatat pada kuartal sebelumnya.

Pada dasarnya, ramalah tersebut mengindikasikan dua hal. Pertama, fondasi ekonomi domestik masih cukup kuat sehingga masih mampu mempertahankan pertumbuhan, di atas angka psikologis 5%. Kedua, mesin pertumbuhan juga terlihat mulai kehilangan tenaga, sebab ruang akselerasi sepertinya kian terbatas.

Ramalan perlambatan oleh ekonom dan analis ini bukan tanpa sebab. Pertumbuhan yang kuat pada kuartal pertama tahun ini sebenarnya ditopang oleh belanja pemerintah pada awal tahun, serta mendapat dorongan dari adanya faktor musiman seperti Ramadan dan Idul Fitri. 

Namun, masuk kuartal kedua, sebagian faktor musiman itu selesai. Akibatnya, laju pertumbuhan kembali mencerminkan kondisi fundamental ekonomi yang sebenarnya. Konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, masih jadi penyangga utama.

(lav)

No more pages