Kesepakatan gencatan senjata sebelumnya antara AS dan Iran bertahan kurang dari sebulan sebelum runtuh akibat perselisihan mengenai kendali atas Hormuz. Kondisi ini memunculkan kemungkinan serangan militer AS dan aksi pembalasan Iran kembali terjadi jika kesepakatan baru gagal dipertahankan.
Sebagai bagian dari kemungkinan kompromi yang dapat dimasukkan dalam kesepakatan, Iran tengah mempertimbangkan untuk mengizinkan negara-negara Eropa menyingkirkan ranjau dari Selat Hormuz, menurut para diplomat yang mengetahui masalah tersebut. Mereka berbicara dengan syarat anonim untuk membahas informasi sensitif.
Langkah tersebut bertentangan dengan sikap Iran di depan publik. Namun, dalam pertemuan tertutup selama beberapa pekan terakhir, Teheran disebut mulai melunakkan posisinya. Kementerian Luar Negeri Iran belum segera menanggapi permintaan komentar.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Keuangan Scott Bessent secara terpisah memberikan penilaian optimistis mengenai pembicaraan terkait Hormuz.
“Saya pikir kesepakatan langsung, yang saat ini banyak menjadi fokus, adalah mengenai selat tersebut,” kata Rubio kepada wartawan, merujuk pada upaya yang sedang berlangsung untuk meningkatkan kembali jumlah kapal yang melintas di jalur perairan strategis tersebut.
Bessent juga mengisyaratkan bahwa kesepakatan mengenai jalur sempit strategis tersebut dapat tercapai dalam waktu dekat.
“Kami sedang berunding dengan Iran dan saya pikir ada peluang kita bisa mencapai kesepakatan hari ini atau besok untuk membuka selat tersebut,” kata Bessent kepada CNBC pada Selasa. Ketika ditanya apakah akan ada pungutan bagi lalu lintas maritim, dia menjawab, “Saya pikir akan ada kebebasan bergerak.”
Pernyataan Bessent disampaikan setelah Kementerian Luar Negeri Qatar, salah satu mediator utama antara Washington dan Teheran, mengatakan rancangan resolusi deeskalasi “sedang disirkulasikan di antara pihak-pihak terkait.”
Kantor berita pemerintah Iran, IRIB News, mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei yang mengatakan pembicaraan antara Iran dan Oman berjalan positif. Dia mengatakan diskusi yang sedang berlangsung berfokus pada “menentukan jalur aman bagi kapal yang keluar dan masuk.”
Namun, pejabat Qatar dan AS sama-sama mengingatkan bahwa belum ada kesepakatan yang tercapai. Sepanjang konflik berlangsung, pejabat AS berulang kali mengatakan kesepakatan untuk membuka Hormuz sudah dekat, tetapi belum ada hasil konkret.
Juru bicara Qatar mengatakan dirinya tidak dapat memberikan tenggat waktu untuk kesepakatan tersebut. Dia mengatakan fokus saat ini adalah mencari solusi jangka pendek untuk mencegah konfrontasi lebih lanjut. Belum jelas apakah Qatar merujuk pada negosiasi antara Iran dan Oman untuk meningkatkan kembali pelayaran melalui Selat Hormuz.
Ketegangan meningkat dalam beberapa hari terakhir setelah Trump mengatakan dirinya memberikan kesempatan terakhir kepada Iran untuk mencapai kesepakatan. Pada akhir pekan, dia menunda serangan yang menurutnya akan menjadi yang terbesar sejak Perang Dunia II.
“Saya ingin memberi mereka kesempatan terakhir sebelum dilakukan pemenggalan,” kata Trump kepada wartawan pada Senin. “Anda akan mengetahuinya hari ini atau besok. Maksud saya, mereka akan bergerak cepat, dengan satu cara atau lainnya. Ini tidak terlalu rumit.”
Kemungkinan penyelesaian diplomatik tampaknya bergantung pada pembicaraan antara Oman dan Iran. Iran masih mempertahankan sikap keras. Negara tersebut menegaskan memiliki hak untuk mengatur lalu lintas maritim dan menghentikan kapal yang mencoba melintasi jalur sempit strategis itu tanpa izinnya.
Sikap Iran tersebut menunjukkan sulitnya upaya Trump mengakhiri perang yang dimulainya pada akhir Februari. Konflik tersebut telah membuat harga energi melonjak, merugikan pemimpin AS itu dan Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu pada November.
Republik Islam Iran berjanji akan melakukan pembalasan keras terhadap serangan besar AS-Israel. Sepanjang konflik, Iran telah menimbulkan kerusakan signifikan di negara-negara Arab Teluk seperti Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab melalui drone serang satu arah serta rudal balistik.
Pemerintahan Trump juga menghadapi pertanyaan mengenai persediaan senjata AS di tengah kekhawatiran bahwa stok tersebut telah terkuras akibat perang yang berlangsung selama berbulan-bulan. Angkatan Darat AS telah menghabiskan sebagian besar persediaan rudal presisi jarak jauhnya, menurut laporan Reuters.
Para pejabat pemerintahan berulang kali mengatakan AS memiliki persediaan yang cukup untuk menjalankan tujuan militernya.
Dalam pernyataan pada Selasa, Trump mengatakan AS memiliki “jauh lebih banyak amunisi dibandingkan negara mana pun di dunia” dan perusahaan-perusahaan pertahanan juga meningkatkan produksi. “Seiring kami meningkatkan persediaan, kami akan mulai mengirimkan lebih banyak kepada sekutu kami di Eropa dan tempat lainnya,” tambahnya.
Trump secara rutin mengurungkan ancaman untuk melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran. Jika kali ini dia memilih untuk melakukannya, harga minyak kemungkinan akan kembali terdorong naik.
Seorang pejabat senior Iran menyerukan AS untuk “mengambil langkah pertama dan mengubah perilakunya” dengan kembali pada ketentuan kesepakatan damai sementara yang dicapai kedua pihak pada Juni.
(bbn)

































