“Kami belum memanfaatkan potensi kami secara maksimal,” kata O’Neill dalam laporan keuangan tersebut. “Kinerja kami selama beberapa tahun terakhir belum memenuhi ekspektasi kami sendiri, apalagi ekspektasi para pemegang saham.”
Konflik di Timur Tengah telah memberikan dorongan, karena para pedagang dan produsen energi global meraup keuntungan dari gangguan perdagangan yang masif, sementara lonjakan biaya bahan bakar yang lebih besar daripada harga minyak mentah telah meningkatkan margin penyulingan.
Perusahaan-perusahaan sejenis, dari Shell Plc hingga ExxonMobil Holdings Corp, juga melaporkan keuntungan besar, sebagian besar akibat gejolak pasar.
Namun, para investor semakin melihat melampaui keuntungan tak terduga BP menuju strategi jangka panjang perusahaan.
Para analis mengamati apakah pemangkasan biaya, penyederhanaan portofolio, dan pengurangan utang pada akhirnya dapat menghasilkan pertumbuhan laba yang berkelanjutan, pembagian dividen yang lebih tinggi kepada pemegang saham, serta valuasi yang lebih kompetitif dibandingkan dengan perusahaan sejenis.
O’Neill memaparkan lima prioritas bagi bisnis ini, dimulai dengan memperkuat neraca keuangan dan menyederhanakan portofolio.
Perusahaan mengurangi ekspektasinya terhadap hasil divestasi tahun ini karena mengumumkan rencana untuk menjual asetnya di Laut Utara Inggris dan Archaea Energy.
BP mengakuisisi produsen biogas AS, Archaea, senilai sekitar US$4,1 miliar pada tahun 2022, saat strategi perusahaan untuk beralih dari minyak dan gas sedang berjalan penuh di bawah kepemimpinan CEO saat itu, Bernard Looney.
Para analis memperkirakan BP akan menjual Archaea dengan harga yang jauh lebih rendah daripada harga belinya.
(bbn)





























