Penerbangan bersama pesawat pengebom strategis China dan Rusia di sekitar Jepang telah dilakukan setidaknya sekali setiap tahun sejak 2019. Namun, latihan yang semakin agresif tersebut berlangsung ketika Beijing berupaya memaksa Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menarik kembali pernyataannya di parlemen pada November lalu terkait Taiwan.
Hal itu menunjukkan bahwa China dan Rusia semakin berkoordinasi dalam menyampaikan pesan politik melalui latihan militer, menurut Riho Aizawa, peneliti di National Institute for Defense Studies di Tokyo.
“China dan Rusia kini memiliki hubungan yang memungkinkan China menekan Jepang dengan dukungan kekuatan militer Rusia pada saat yang sesuai dengan kepentingan politik China,” tulis Aizawa dalam laporan terbarunya.
Tahun ini, militer Jepang semakin sering merespons ancaman udara gabungan dari China dan Rusia. Data yang dirilis Kementerian Pertahanan Jepang pada Juli menunjukkan jumlah pengerahan jet tempur Jepang untuk memantau pesawat China atau Rusia yang terbang di sekitar Jepang pada kuartal pertama tahun ini mencapai level tertinggi dalam tiga tahun.
Selain ancaman udara, Jepang juga mewaspadai aktivitas angkatan laut China dan Rusia di sekitar kepulauan tersebut. Pada Juli, Tokyo mengatakan telah mengamati sebuah kapal perusak China menembakkan senapan mesin di dalam zona ekonomi eksklusif sebuah pulau Jepang di Samudra Pasifik. Kapal perusak tersebut sebelumnya terlihat berlayar bersama sebuah fregat Rusia dan kapal perang China lainnya di wilayah tersebut.
Aliansi militer Rusia dengan Korut yang ditandatangani pada 2024 juga memberikan dukungan terhadap pengembangan persenjataan Pyongyang, menurut laporan tersebut. Laporan itu menyoroti kemajuan “sangat pesat” Korut dalam pengembangan rudal, termasuk rudal hipersonik canggih.
“Melalui kerja sama militer dengan Rusia, terdapat kekhawatiran bahwa kekuatan militer Korea Utara akan meningkat dalam jangka menengah hingga panjang,” demikian bunyi laporan tersebut.
Meski belum ada indikasi jelas mengenai koordinasi militer tiga arah antara China, Rusia, dan Korea Utara, buku putih pertahanan Jepang menyoroti kemunculan bersama para pemimpin ketiga negara dalam parade militer di Beijing pada September tahun lalu.
Untuk pertama kalinya, buku putih tersebut memuat bagian mengenai upaya Jepang memperkuat industri pertahanannya guna merespons meningkatnya ancaman regional. Laporan itu juga menyoroti semakin pentingnya drone dan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dalam peperangan modern.
(bbn)
































