Logo Bloomberg Technoz

Sebelum mentransfer uang, Bunga mengaku sempat melakukan pengecekan karena pembayaran dilakukan ke rekening BNI dengan nama yang disebut sesuai identitas pemilik rekening. Hal itu membuatnya merasa lebih aman dibanding modus penipuan yang biasa menggunakan dompet digital atau rekening yang sulit dilacak.

"Setelah lihat TNC yang dia berikan, aku memutuskan buat cek lebih lanjut karena dia bilang payment ke bank BNI dan namanya sesuai dengan KTP. Biasanya kalau scammers yang aku tahu transaksi menggunakan e-banking atau e-wallet agar susah terdeteksi. Di situlah awal mula kebodohan aku dimulai," katanya.

Karena merasa yakin, Bunga membayar uang muka atau down payment (DP) sebesar 50% dari harga tiket Rp6,9 juta, yakni sekitar Rp3,45 juta. Sementara temannya membayar DP sekitar 40% dari tiket seharga Rp7 juta atau sekitar Rp2,8 juta.

"Aku Rp3,450 juta, temenku Rp2,800 jutaan. Karena aku DP 50% dan temenku 40% dari harga Rp6,9 juta dan Rp7 juta," ujar Bunga.

Setelah pembayaran dilakukan, tiket yang dijanjikan tidak pernah diterima. Bunga dan temannya kemudian berupaya menghubungi layanan pelanggan BNI untuk melaporkan rekening tujuan, namun diarahkan agar mengurus laporan melalui bank masing-masing.

"Aku dan temenku pengen banget laporin hal ini ke pihak berwajib karena aneh aja kok bisa nama rekening sama dengan KTP dan ternyata nipu. Kami sudah lapor ke CS BNI, tapi responnya kami harus urus ke bank masing-masing karena BNI enggak punya otorisasi," katanya.

Merasa jalur hukum akan memakan waktu dan tenaga, keduanya akhirnya memilih memperingatkan masyarakat melalui media sosial. Mereka membagikan kronologi penipuan di Threads, menandai nomor pelaku sebagai penipu di GetContact, hingga melaporkan rekening tersebut ke situs CekRekening.

"Daripada aku buang-buang energi ngurus ke polisi atau lapor sana sini, mending cari jalan pintas aja buat diviralin. Biar yang lain aware juga," ujar Bunga.

Meski unggahannya mendapat perhatian luas, Bunga mengaku masih menemukan banyak akun lain yang menawarkan tiket BTS dengan pola serupa. Ia juga menduga para pelaku akan terus berganti identitas untuk mencari korban baru.

"Sampai sekarang aku dan temen-temenku masih nemuin banyak akun yang jual tiket BTS. Aku juga masih nemuin Threads yang jual tiket dengan metode hampir sama, harga Rp6,5 juta sampai Rp7 juta dan domisilinya jauh di luar Jabodetabek," katanya.

Bunga berharap kisah yang dialaminya bisa menjadi pengingat untuk calon pembeli tiket konser agar lebih berhati-hati saat bertransaksi dengan penjual yang tak dikenal di media sosial.

"Kayanya Threads aku juga sampai ke sindikat penipunya karena engagement-nya lumayan. Cuma ya minusnya bisa jadi mereka cari motif lain. Harapannya sih jangan ada lagi yang kegocek seperti aku dan temenku," tutupnya.

(dec)

No more pages