Selain perdagangan, kedua negara menyepakati penguatan kerja sama di sektor ketahanan pangan, meliputi teknologi pertanian, logistik, pengolahan pangan, hingga penguatan rantai pasok.
"Kita juga sepakat untuk meningkatkan kerja sama di bidang ketahanan pangan terkait teknologi pertanian, logistik, pengolahan pangan, hingga ketahanan rantai pasok," imbuh Prabowo.
Untuk bidang energi, Indonesia dan Tailan akan mendorong pembentukan Indonesia–Thailand Energy Forum untuk memperkuat ketahanan energi dan mendukung transisi menuju energi berkelanjutan.
Kedua negara juga berkomitmen memperluas kerja sama ekonomi digital, termasuk meningkatkan penggunaan Local Currency Transaction (LCT) untuk mendukung efisiensi perdagangan dan investasi.
Prabowo menilai Indonesia dan Thailand memiliki peluang memperkuat rantai nilai industri halal di tingkat regional dan global. "Dengan keunggulan masing-masing di sektor industri halal, Indonesia dan Thailand dapat saling mendukung dalam membangun rantai industri halal regional dan global," jelasnya.
Pada layanan konektivitas, Indonesia menyambut pembukaan rute penerbangan langsung Jakarta-Bangkok dan Denpasar-Phuket. Kehadiran rute baru tersebut diharapkan semakin mempererat hubungan masyarakat, memperlancar arus wisatawan, serta membuka peluang perdagangan dan investasi yang lebih luas antara kedua negara.
Selain mengesahkan peta jalan kemitraan strategis, Indonesia dan Thailand juga menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) di bidang pendidikan. "Penandatanganan MoU di bidang pendidikan untuk mempererat kerja sama pengembangan sumber daya manusia kedua negara," cerita Prabowo.
Sementara itu, PM Tailan Anutin menyatakan bahwa dirinya meyakini prospek hubungan ekonomi kedua negara yang didukung oleh pasar dengan potensi yang besar dengan total penduduk sekitar 350 juta jiwa.
Menurutnya, potensi tersebut perlu dimanfaatkan melalui kemudahan akses perdagangan dan investasi serta penguatan kemitraan sektor swasta. "Kami sepakat bahwa Thailand dan Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan volume perdagangan dan investasi bilateral," kata PM Anutin.
(prc/wep)





























