Sebelumnya, Wall Street Journal melaporkan pada Jumat bahwa militer AS telah diperintahkan untuk melancarkan serangan baru paling cepat akhir pekan ini. Dalam rapat kabinet pada Jumat, Trump mengatakan AS akan menyerang Iran "dengan sangat keras" sebagai upaya mengakhiri perang yang telah memasuki bulan keenam. "Dan pada titik tertentu mereka akan mengatakan bahwa mereka sudah tidak sanggup lagi menanggungnya," ujar Trump.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di berbagai negara Timur Tengah pada Sabtu memperingatkan warga AS agar bersiap menghadapi pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara secara berkala, dan berbagai gangguan perjalanan lainnya karena ketegangan di kawasan masih tinggi.
Konflik yang silih berganti antara Amerika Serikat dan Iran, yang berulang kali mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz—jalur vital bagi ekspor minyak, gas alam cair (LNG), dan pupuk—dimulai pada 28 Februari. Gencatan senjata singkat yang dimediasi pada Juni runtuh bulan lalu, meski kedua pihak kembali menghentikan serangan pada akhir Juli untuk memberi kesempatan baru bagi jalur diplomasi.
Masa tenang tersebut berakhir pada Selasa malam ketika Teheran melancarkan apa yang disebut Trump sebagai serangan mendadak, dengan menembakkan sejumlah rudal balistik ke pangkalan militer AS di Yordania. Eskalasi terbaru ini memicu gejolak tajam di pasar energi, dengan harga minyak mentah Brent ditutup di atas US$90 per barel pada akhir pekan, naik dari posisi di bawah US$72 per barel pada awal bulan lalu.
(bbn)





























