Logo Bloomberg Technoz

Salah satu sumber ketidakpastian terbesar adalah arah kebijakan organisasi produsen minyak besar dunia OPEC+, termasuk strategi Uni Emirat Arab (UEA) setelah keluar dari kelompok tersebut.

Produksi minyak OPEC dan UEA./dok. BMI

“Muncul ekspektasi yang menguat bahwa OPEC+ akan menghentikan peningkatan produksinya setelah September 2026. Kelompok tersebut kemungkinan terkejut melihat betapa tajamnya harga Brent turun setelah nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran. Mereka tentu ingin menghindari sentimen bearish [pelemahan harga] yang makin dalam,” tulis BMI dalam riset terbaru, Sabtu (1/8/2026).

Selain itu, dalam waktu dekat tidak ada kebutuhan mendesak untuk terus menaikkan target produksi.

Selama konflik berlangsung, OPEC+ terus mengumumkan kenaikan target produksi meskipun realisasinya justru menurun.

Produksi minyak anggota OPEC./dok. BMI

Hal ini memberikan ruang yang cukup besar bagi para produsen untuk meningkatkan kembali pasokan pada akhir tahun tanpa melanggar kuota produksi yang telah ditetapkan.

Meski demikian, BMI tetap memperkirakan produksi akan meningkat sepanjang 2027, termasuk melalui tambahan kenaikan target produksi OPEC+.

Terlebih, negara-negara anggota di kawasan Teluk, khususnya Kuwait dan Irak, mengalami kerugian besar selama konflik dan memiliki kepentingan untuk segera memulihkan produksi maupun pendapatan.

Produksi minyak Teluk./dok. BMI

Dengan demikian, BMI memproyeksikan akan sulit membangun konsensus agar produksi tetap dipertahankan pada tingkat yang sama tahun depan.

Irak bahkan telah beberapa kali mendesak agar memperoleh kuota produksi yang lebih besar dan membuka kemungkinan keluar dari OPEC apabila tuntutannya tidak dipenuhi.

Di sisi lain, keputusan Uni Emirat Arab meninggalkan OPEC+ menambah lapisan ketidakpastian baru.

Saat mengumumkan keluar dari kelompok tersebut, UEA menyatakan tetap akan mengelola produksi secara bertanggung jawab.

Produksi minyak OPEC+./dok. BMI

BMI menafsirkan pernyataan itu sebagai komitmen untuk tetap menyimpan sebagian kapasitas cadangan dan menyesuaikan produksi sesuai kondisi pasar.

Namun, produksi minyak UEA justru meningkat tajam pada Juni hingga rata-rata sekitar 3,8 juta barel per hari, bahkan kemungkinan sempat melampaui 4 juta barel per hari pada puncak produksi bulanan.

“Walaupun data ini belum cukup untuk dijadikan kesimpulan pasti, perkembangan tersebut dapat menjadi sinyal bahwa UEA berencana lebih agresif merebut pangsa pasar pada tahun depan. Jika benar demikian, gesekan dengan OPEC+ berpotensi meningkat dan kohesi internal kelompok tersebut dapat menghadapi tekanan yang lebih besar,” tulis BMI. 

Permintaan China 

Di sisi lain, BMI turut menyoroti impor minyak mentah Asia turun tajam karena tingkat operasi kilang yang lebih rendah mengurangi kebutuhan bahan baku; pembeli memilih menguras persediaan domestik alih-alih mengimpor minyak dengan harga mahal.

Penurunan ini terutama dipimpin oleh China, yang hanya mengimpor sekitar 7,2 juta barel per hari pada Juni, turun dari 12,2 juta barel per hari pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan impor China menjadi faktor terbesar yang membantu menyeimbangkan kembali pasar minyak global.

Impor/permintaan minyak China anjlok./dok. BMI


BMI menggarisbawahi perkembangan harga juga akan sangat dipengaruhi oleh sikap para pembeli di Asia, khususnya China.

BMI memperkirakan China akan kembali ke pasar secara hati-hati dan enggan mengerek harga minyak naik terlalu tinggi.

(dov/wdh)

No more pages