Pendapatan kuartal ketiga diperkirakan akan berada di kisaran US$61-US$64 miliar (setara Rp1.157 triliun), kata Meta, dengan nilai tengah kisaran tersebut berada di bawah perkiraan rata-rata analis US$63,2 miliar, menurut data yang dihimpun oleh Bloomberg.
Saham Meta anjlok hingga 10% dalam perdagangan setelah jam bursa setelah ditutup pada level $585,61 pada Rabu di New York. Saham tersebut telah turun 11% sepanjang tahun ini.
Meta menghabiskan ratusan miliar dolar AS guna bersaing dengan pesaing teknologi AS, termasuk Alphabet Inc., OpenAI, dan Anthropic PBC, dalam perlombaan mengembangkan model dan produk AI termutakhir.
Meta sendiri merupakan salah satu pengeluaran terbesar di industri teknologi dalam hal pusat data AI; baru pekan ini perusahaan mengumumkan kemitraan dengan BlackRock Inc. untuk membangun kompleks senilai $14 miliar di El Paso, Texas. Mereka juga sedang membangun pusat data lain di daerah pedesaan Louisiana yang diperkirakan akan menelan biaya lebih dari US$250 miliar.
Sebagian karena belum memiliki bisnis komputasi awan dan produk AI-nya terkadang dianggap kurang kompetitif dibandingkan hasil kerja laboratorium AI lainnya, Meta secara berkala menghadapi keraguan dari investor soal kemampuannya untuk mengembalikan pengeluaran ini. Dalam beberapa bulan terakhir, Meta mengumumkan beberapa lini bisnis baru yang terkait dengan AI, termasuk langganan chatbot untuk konsumen dan model AI berbayar untuk pengembang, meskipun keduanya masih dalam tahap awal.
Peluang di Kompatasi Awan
Pada momen yang sama Mark Zuckerberg memberi isyarat lini bisnis potensial lainnya: cloud computing di mana Meta akan menjual daya komputasi kepada perusahaan lain.
Mark Zuckerberg mengatakan bahwa sebagian “besar” dari daya komputasi Meta saat ini digunakan untuk melatih model AI-nya sendiri, suatu kewajiban untuk perusahaan sebagai laboratorium AI terkemuka. Namun, ia juga menyebutkan bahwa Meta telah menerima “banyak tawaran” dari perusahaan-perusahaan yang tertarik membeli daya komputasinya dengan “premium yang signifikan” dibandingkan biaya yang dikeluarkan Meta untuk memperolehnya.
Hal itu telah menciptakan peluang, dan ia menegaskan bahwa Meta kini harus mempertimbangkan trade-off antara menjual daya komputasi yang dimilikinya untuk mendapatkan keuntungan versus terus menggunakannya untuk produk dan layanannya sendiri. Perhitungan ini dilakukan bersamaan dengan langkah Meta membeli daya komputasi dari operator pusat data independen — yang disebut “neoclouds” — juga.
“Kapasitas komputasi yang tersedia sama sekali tidak cukup untuk memenuhi seluruh permintaan,” tambahnya saat ditanya mengenai gagasan Meta yang berperan ganda sebagai pembeli dan penjual.
Meta menyesuaikan proyeksi belanja modal tahunannya menjadi US$130-US$145 miliar, dengan sedikit menaikkan batas bawah dari proyeksi sebelumnya yaitu antara US$125 - US$145 miliar. Sebagai salah satu penanda paling tampak investasi Meta di bidang AI, arus kas bebas perusahaan pada kuartal kedua turun menjadi US$784 juta, level terendah sejak kuartal ketiga 2022, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg.
Sebagian besar investasinya didorong oleh pendapatan iklan yang dihasilkan Meta dari produk jejaring sosial andalannya, Facebook dan Instagram. Meta melaporkan pendapatan sebesar US$60,8 miliar untuk kuartal yang berakhir pada 30 Juni, sedikit di atas proyeksi analis US$60,3 miliar.
“Pertumbuhan pendapatan Meta yang kuat sekali lagi akan tertutupi oleh proyeksi belanja modalnya,” tulis Minda Smiley, seorang analis senior di Emarketer.
“Meski Meta tidak menaikkan proyeksinya, hal itu tidak akan menghentikan para investor untuk mendesak agar mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai rencana bisnis komputasi yang potensial — serta detail lainnya mengenai bagaimana Meta berencana memonetisasi AI.”
Perusahaan teknologi terbesar AS berencana menghabiskan hingga US$725 miliar tahun ini untuk belanja modal, terutama untuk infrastruktur AI yang diperlukan dalam pengembangan pusat data. Alphabet Inc., induk perusahaan Google, pekan lalu mengumumkan telah menaikkan proyeksi belanja modalnya menjadi hingga US$205 miliar di 2026, yang menyebabkan harga sahamnya turun. Secara umum, investor merasa was-was terhadap pengeluaran AI perusahaan-perusahaan tersebut, khawatir ke mana arahnya dan apakah pada akhirnya akan membuahkan hasil.
(bbn)
































