Presiden Direktur Vale Bernardus Irmanto mengatakan pinjaman itu bakal membantu perseroan untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang sembari menyelaraskan strategi pembiayaan perseroan.
“Fasilitas ini menandai langkah penting dalam perjalanan kami untuk menyelaraskan strategi pembiayaan dengan agenda dekarbonisasi dan pertumbuhan jangka panjang perusahaan,” kata Bernardus saat seremoni penandatanganan pinjaman di Jakarta, April lalu.
Kendati INCO mencetak laba yang signifikan ke level US$104,37 juta pada semester I-2026, naik sekitar 4 kali lipat secara tahunan, kas dan setara kas perseroan justru menipis.
Alasannya, INCO mesti menempatkan dana sekitar US$63,88 juta sebagai Devisa Hasil Ekspor SDA, pembayaran kas ke pemasok US$278,1 juta hingga pembayaran royalti dan restribusi US$69,05 juta.
Adapun, setoran royalti itu naik sekitar 2 kali lipat mengikuti tren kenaikan laba perseroan sepanjang semester I-2026. Arus kas bersih yang tersisa dari operasi hanya US$38,4 juta.
Di sisi lain, INCO mesti mengeluarkan belanja modal yang intensif untuk pengembangan blok tambang dan smelter di Bahadopi, Pomalaa dan Sorowako.
Investasi yang sudah dikeluarkan terkait dengan ekspansi ini mencapai US$254,97 juta pada periode Januari-Juni 2026. Porsi belanja modal ini juga ikut ditekan dengan kewajiban pembagian dividen yang makin lebar ke pemegang saham sebesar US$45,63 juta.
Sampai akhir Juni 2026, kas dan setara kas INCO tinggal tersisa US$110,66 juta atau minus 70,59% dari posisi kas awal tahun sekitar US$376,35 juta. Malahan, posisi kas INCO sempat berada di level US$674,69 juta awal 2025 lalu.
Sebelumnya, analis PT Ciptadana Sekuritas Asia Ryan Santoso menyoroti risiko alokasi belanja modal yang relatif besar dari kemampuan pendanaan internal perseroan.
Manajemen memproyeksikan utang meningkat signifikan dari US$350 juta menjadi US$1,25 miliar pada 2027.
“Meskipun telah mengamankan pembiayaan berbasis keberlanjutan sebesar US$750 juta, kebutuhan dana tetap besar,” tulis Ryan lewat riset dikutip, Kamis (30/7/2026).
Dengan EBITDA tahun 2025 sebesar US$228 juta, Ryan menambahkan, INCO kemungkinan akan tetap berada dalam posisi free cash flow (FCF) negatif secara struktural sampai 2028.
“Disertai peningkatan signifikan beban bunga,” kata Ryan.
Di sisi lain, Ryan berpendapat INCO bakal tetap mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 37% pada tahun ini, ditopang kenaikan harga nikel dan volume bijih.
“Namun, kami menilai hal ini sudah tercermin dalam harga saham, terlihat dari kenaikan +20% sejak awal tahun (YTD) dan reli puncak +53% sebelumnya pada tahun ini,” tulis Ryan.
Upaya pemerintah untuk mengurangi kuota tambang belakangan berhasil menopang harga nikel dalam jangka pendek. Kendati demikian, kenaikan biaya input menjadi tantangan baru bagi INCO.
“Kami mengasumsikan harga minyak sebesar US$100 per barel yang mendorong biaya bahan bakar naik menjadi 17,7% dari penjualan, sehingga makin menggerus profitabilitas,” kata Ryan.
(naw)

































