Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Berpeluang Menguat, Pelemahan Dolar AS Redakan Tekanan

Tim Riset Bloomberg Technoz
30 July 2026 08:25

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Setelah melewati awal pekan yang penuh tekanan, pergerakan rupiah di pasar spot pada perdagangan Kamis (30/7/2026) berpeluang lebih positif, seiring Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga, Fed Fund Rate (FFR). 

Dolar AS terdepresiasi setelah The Fed memutuskan suku bunga bertahan di 3,5%-3,75%, seperti proyeksi Bloomberg. Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah mulai terpangkas dari US$90,74/barel pada 06.53 WIB, menjadi US$89,96 pada 07.45 WIB. 

Hal ini meredakan sedikit tekanan rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF). Setelah sempat melemah terbatas 0,08% di Rp18.144/US$, rupiah offshore berbalik arah dengan penguatan 0,10% menjadi Rp18.111/US$ pada 07.57 WIB. 


Sepertinya, sentimen pasar global relatif tenang, meski kekhawatiran bahwa konflik akan terjadi berlarut-larut masih ada, karena baik AS maupun Iran sepertinya tidak mampu mencapai kata sepakat. 

Baru-baru ini, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Iran akan mendapat balasan setelah penyerangan terhadap pasukan AS di Yordania. Meski begitu, pelemahan dolar AS dan terpangkasnya harga minyak membawa angin segar bagi mata uang Asia.