Logo Bloomberg Technoz

Dari pasar yang sudah buka, won Korea Selatan menguat paling tajam 0,46%, disusul ringgit Malaysia, yen Jepang, dan dolar Singapura. 

Sebagian mata uang Asia menguat, seiring dolar AS terdepresiasi. (Bloomberg)

Penguatan tajam yang terjadi pada won tertopang oleh langkah eksportir domestik yang mengonversi pendapatan mereka dalam dolar AS ke won menjelang akhir bulan ini, salah satunya SK Hynix. 

Di sisi lain, penguatan won juga didukung oleh sikap Wakil Gubernur Bank of Korea (BOK), Park Jong Woo, yang segera menggelar rapat untuk meninjau kondisi pasar keuangan setelah The Fed memutuskan menahan suku bunga acuannya. 

Memang, keputusan The Fed menahan suku bunga dan menyebabkan dolar AS terdepresiasi membuka ruang penguatan bagi mata uang Asia, termasuk rupiah. 

“Bagi sebagian rumah tangga, bisnis, dan pelaku pasar profesional, lima tahun inflasi tinggi telah meninggalkan kesan keliru—yang sulit dihilangkan—bahwa target inflasi implisit The Fed entah bagaimana berada di atas 2%,” ujar Ketua The Fed, Kevin Warsh, kepada para wartawan setelah keputusan tersebut.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) juga sepertinya tidak akan membiarkan rupiah kembali berlayar menuju level Rp18.100/US$, meski telah berganti nakhoda. Rupiah sempat hampir menyentuh level tersebut dan bertengger di Rp18.096/US$ pada 14 Juli, sebelum akhirnya BI melakukan serangkaian intervensi dan kembali membawa rupiah ke Rp17.866 pada 22 Juli. Pada penutupan perdagangan hari itu, rupiah pun berhasil bertahan di Rp17.880/US$. 

Dalam pernyataannya kemarin (29/7/2026), Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas, Erwin Hutapea, mengatakan BI akan terus memanfaatkan berbagai instrumen, termasuk intervensi di pasar valuta asing, serta optimalisasi instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendorong masuknya aliran modal asing. 

“BI terus berkomitmen menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi," kata Erwin dalam siaran pers, Rabu (29/7/2026).

Tapi bagi rupiah, harga minyak yang masih bertahan tinggi, sejatinya berpotensi menahan laju penguatan. Sebagai net importir minyak, harga energi yang berada di atas acuan asumsi dasar dalam APBN, berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan, sekaligus meningkatkan permintaan dolar AS bagi Indonesia. 

Saat ini, harga rata-rata minyak mentah bertahan di US$83/barel, sementara harga asumsi makro yang menjadi acuan biaya dalam APBN ditetapkan di angka US$70/barel. 

Sebagai catatan, neraca pembayaran Indonesia kuartal I-2026 mencatat defisit sebesar US$9,15 miliar. Ini merupakan defisit terdalam sejak 2020, akibat melemahnya transaksi berjalan dan arus modal. Defisit transaksi berjalan juga membengkak menjadi US$67,89 miliar, terbesar sejak kuartal IV-2019. 

Dengan kondisi ini, rupiah di pasar spot kemungkinan masih berada dalam fase konsolidasi, terlebih setelah kemarin sempat menguat tipis 0,07% ke Rp18.055/US$. Depresiasi tipis yang terjadi di pasar offshore mengindikasikan bahwa tekanan jual sepertinya belum berkembang jadi aksi jual yang agresif. 

Analisis Teknikal

Secara teknikal nilai tukar rupiah sejatinya ada peluang menguat hari ini. Adapun rupiah berpotensi menguat ke resistance terdekat pada level Rp18.020/US$, resistance potensial selanjutnya bisa kembali menembus Rp18.000/US$ usai break trendline sebelumnya.

Analisis Teknikal Rupiah Kamis 30 Juli 2026 (Sumber: Bloomberg)

Rupiah juga terdapat level Rp17.900/US$ sebagai acuan paling optimistis penguatan di dalam time frame daily, atau di tren jangka pendek (short-term).

Jika nilai tukar rupiah justru lanjut melemah, level support terkuatnya pada level Rp18.100/US$, maka mengonfirmasi support selanjutnya pada level Rp18.150/US$ hingga support psikologis Rp18.200/US$.

(riset)

No more pages