The Fed Tahan Suku Bunga, Bursa Asia Berpotensi Melemah
News
30 July 2026 06:30

Toby Alder - Bloomberg News
Bloomberg, Bursa saham Asia diperkirakan akan mengekor penurunan Wall Street menyusul kembali mencuatnya kekhawatiran atas besarnya belanja kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang mendorong imbal hasil (yield) obligasi AS tenor panjang ke level tertinggi dalam hampir dua dekade.
Kontrak berjangka (futures) indeks saham Australia, Jepang, dan Korea Selatan seluruhnya mengindikasikan pelemahan setelah S&P 500 merosot 1,5%, tertekan oleh aksi jual baru pada saham-saham pembuat cip. Indeks Nasdaq 100 resmi memasuki fase koreksi teknis, membawa penurunannya dari rekor tertinggi mencapai 11%. Usai penutupan pasar, Meta Platforms Inc merilis proyeksi yang cenderung datar, sementara Microsoft Corp melaporkan pertumbuhan bisnis komputasi awan (cloud) tercepatnya dalam empat tahun yang membantu menopang kontrak berjangka saham AS pada awal perdagangan Asia.
Kurva imbal hasil obligasi AS (Treasury) kian curam setelah The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan. Imbal hasil Treasury 30-tahun melonjak lebih dari 10 basis poin ke level tertinggi sejak 2007, sementara imbal hasil acuan 10-tahun naik lima basis poin menjadi 4,66%. Sebaliknya, imbal hasil dua tahun—yang paling sensitif terhadap ekspektasi kebijakan moneter—turun enam basis poin menjadi 4,23%. Di sisi lain, nilai tukar dolar AS mencatatkan penurunan harian terbesarnya dalam dua pekan.
Gubernur The Fed Kevin Warsh menyatakan bahwa keputusan untuk menahan suku bunga bukan berarti bank sentral bersikap pasif, seraya menambahkan bahwa pasar bebas menentukan jalurnya sendiri berdasarkan sinyal-sinyal ekonomi. Tiga dari 12 pejabat yang memiliki hak suara di The Fed menyatakan ketidaksetujuan (dissent) dan memilih kenaikan suku bunga, yang menonjolkan masih kuatnya kekhawatiran terhadap inflasi.


























