Logo Bloomberg Technoz

Besaran tersebut, kata Yuliot, bakal dikirimkan ke Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Ditjen Minerba) untuk memutuskan apakah harga yang diajukan sudah tepat atau belum.

“Termasuk kalau potensi nanti ini harga itu secara rata-rata turun, ya tentu dari Pertamina akan menyesuaikan harga,” tegas Yuliot.

Ekonom menilai penurunan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dapat tertahan, jika harga minyak mentah dunia terus bertahan di level psikologis tinggi dalam jangka waktu yang lama.

Ekonom dari Universitas Andalas Syafrudin Karimi menjelaskan lonjakan harga minyak mentah yang terjadi baru-baru ini belum otomatis akan menentukan harga BBM nonsubsidi untuk periode Agustus 2026, terlebih dalam sebagian besar periode evaluasi harga minyak mentah sempat berada di kisaran US$70/barel.

Kendati begitu, dia juga mengingatkan lonjakan harga minyak mentah menjelang akhir periode evaluasi dapat menaikkan rata-rata harga BBM Mean of Platts Singapore (MOPS) yang menjadi salah satu acuan penetapan harga BBM nonsubsidi.

Selain itu, lonjakan harga tersebut juga bisa meningkatkan premi kargo, ongkos angkut, dan biaya pengadaan.

“Jika kenaikan ini bertahan beberapa hari, Pertamina akan lebih sulit membenarkan pemotongan harga yang berarti. Skenario paling masuk akal untuk Agustus ialah harga Pertamax tetap, bukan turun besar atau langsung naik tajam,” kata Syafrudin ketika dihubungi, Jumat (24/7/2026).

Lebih lanjut, Syafrudin memandang harga Pertamax justru bisa naik ke level Rp17.500 hingga Rp18.500 per liter, jika harga minyak mentah menetap di level US$100/barel dalam jangka menengah.

Dia menilai pemerintah dan PT Pertamina (Persero) tetap dapat menahan kenaikan melalui pengurangan margin atau pengaturan waktu penyesuaian. Namun, kebijakan tersebut dinilai hanya memindahkan tekanan ke arus kas Pertamina.

“Titik tengah yang cukup realistis berada di kisaran Rp18.000/liter, atau sekitar Rp1.750 lebih tinggi daripada harga Jakarta saat ini [di level Rp16.250/liter],” tegasnya.

Adapun, Syafruddin menjelaskan formula harga BBM nonsubsidi mengacu rata-rata harga BBM di pasar Singapura (MOPS), rata-rata kurs rupiah selama periode evaluasi, biaya penyimpanan dan distribusi, margin badan usaha, dan pajak bahan bakar kendaraan bermotor.

Sekadar informasi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan harga BBM nonsubsidi bisa saja turun jika harga minyak dunia melandai.

Bahlil bahkan mengaku sudah menginstruksikan Pertamina dan badan usaha (BU) hilir migas swasta untuk segera menyesuaikan harga BBM nonsubsidi.

“Bahkan ada berpotensi untuk beberapa jenis BBM yang ketika harga dunia akan turun, kita sudah mulai meminta kepada pengusaha badan usaha swasta termasuk Pertamina untuk segera melakukan penyesuaian,” kata Bahlil kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (20/7/2026) malam.

Dia menyatakan sudah melakukan kajian ihwal potensi penyesuaian harga BBM dan bakal melakukan rapat dengan Pertamina dan BU swasta.

Kendati begitu, dia juga mencermati volatilitas harga minyak mentah dunia. Bahlil menyatakan harga minyak bisa turun cukup dalam dalam waktu cepat, dan kembali naik ke level yang tinggi.

Untuk itu, Bahlil menyatakan bakal mencari formulasi yang bijak, yakni tidak memberatkan masyarakat yang menggunakan BBM nonsubsidi dan tidak memberatkan BU hilir migas.

Sekadar informasi, harga minyak telah menguat bulan ini karena permusuhan antara AS dan Iran meningkat di Teluk Persia, menghambat lalu lintas melalui Selat Hormuz dan memperlambat aliran minyak mentah dan gas alam cair.

Pada pekan lalu, harga minyak mentah Brent sempat menembus level US$100 per barel, namun pada hari ini harga minyak mentah Brent tercatat sebesar US$86,46 per barel.

(azr/ros)

No more pages