“Konsumen yang sudah ada tidak seharusnya menanggung biaya kapasitas yang lebih tinggi akibat Beban Besar baru yang tidak menyediakan, atau tidak mengontrak, pasokan baru yang diperlukan untuk melayani mereka.”
Berdasarkan rencana tersebut, peringatan pembatasan penggunaan pusat data akan dikeluarkan sebelum jaringan listrik memasuki skenario darurat yang sesungguhnya.
PJM, yang mewadahi kawasan “Data Center Alley” di Virginia Utara, telah berada di bawah tekanan besar untuk segera meningkatkan pembangkitan listrik. Tujuannya mengatasi proyeksi kekurangan listrik dalam beberapa tahun mendatang. Operator jaringan ini telah menghadapi kritik selama berbulan-bulan dari para gubernur, perusahaan utilitas, kelompok pembela hak konsumen, dan Gedung Putih, yang memicu seruan untuk melakukan reformasi atau bahkan pemecahan jaringan tersebut.
PJM juga mengumumkan lelang darurat untuk pembangkit listrik pada bulan September guna membantu menutupi kekurangan yang diproyeksikan sebesar hampir 7 GW untuk tahun yang dimulai pada Juni 2028. Lelang yang digelar awal bulan ini gagal menarik pasokan yang cukup untuk periode tersebut. Biaya dari apa yang disebut “Reliability Backstop Procurement” akan dibebankan kepada pusat data, menurut surat tersebut.
Proses penjodohan bilateral antara pusat data dan pembangkit listrik akan berlangsung secara paralel, kata PJM.
PJM memperkirakan bahwa permintaan dari pusat data akan meningkat sekitar 70 GW pada tahun 2038. Awal bulan ini, permintaan pada jaringan PJM melonjak hingga 168 GW, memecahkan rekor dua dekade terakhir karena cuaca panas ekstrem menambah beban ekstra dari fasilitas AI baru.
(bbn)
































