Logo Bloomberg Technoz

Dorongan Presiden AS Donald Trump untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri perang yang sangat tidak populer ini muncul di tengah harapan Partai Republik untuk mempertahankan kendali atas Kongres selama pemilihan sela November. Harga bensin, yang kembali melampaui US$4 per galon secara nasional, serta inflasi yang meluas, menjadi perhatian utama para pemilih.

Iran, di sisi lain, berisiko menghadapi operasi militer AS yang lebih agresif setelah pemilihan paruh waktu. Negara itu memperoleh konsesi dari AS selama gencatan senjata yang sekarang sudah berakhir dan ekonominya tetap tertekan akibat perang.

Pasar minyak dilanda berbagai titik panas geopolitik yang mengganggu aliran pasokan global. Perang AS-Iran terus berlarut-larut, dan Selat Hormuz pada dasarnya tetap tertutup, sementara pemberontak Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi yang melintasi Laut Merah.

Pada Senin, harga minyak turun setelah AS menghentikan sementara serangannya, di mana Trump menyatakan hal itu dilakukan untuk memberi kesempatan lagi pada diplomasi. Namun, belum jelas apakah negosiasi substansial antara AS dan Iran sedang berlangsung. 

Potensi de-eskalasi konflik menjelang pemilu kemungkinan akan melibatkan konsesi dari kedua belah pihak, termasuk penerapan tarif di Selat Hormuz—suatu hasil yang dianggap “tak terelakkan”, kata Dwivedi. 

"Sudah jelas, kita tidak punya cara untuk menghentikan Iran memblokir selat tersebut," katanya. Di sisi lain, Iran mungkin akan terus kehilangan aksesnya ke dana miliaran dolar yang dibekukan.

(bbn)

No more pages