Perubahan tersebut terjadi ketika rupiah masih berada di bawah tekanan. Mata uang Garuda kembali bergerak di atas level psikologis Rp18.000/US$, sehingga menambah kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasar keuangan domestik.
Data perdagangan pukul 11:12 WIB, rupiah spot dibanderol Rp18.085/US$ melemah 0,44%. Bahkan, rupiah di pasar luar negeri berada dalam posisi lebih lemah Rp18.147/US$, setelah tergerus 0,21%.
Sinyal tersebut juga semakin dipertegas oleh kenaikan CDS obligasi pemerintah berdenominasi dolar AS (INDON) tenor lima tahun menjadi 93,2 bps.
Meski level tersebut masih jauh dari kondisi krisis seperti di era pandemi Covid-19, kenaikan CDS mencerminkan meningkatnya biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar Indonesia. Bagi investor global, CDS merupakan salah satu indikator utama yang mengukur persepsi risiko suatu negara.
Pelemahan rupiah, kenaikan CDS, dan meningkatnya yield SUN yang terjadi secara bersamaan, menunjukkan bahwa investor sedang melakukan repricing terhadap risiko Indonesia.
Meski begitu, menurut Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, tekanan terhadap pasar obligasi kemungkinan masih akan berlangsung, meski volatilitas diperkirakan tidak akan meningkat tajam.
Ia memperkirakan yield SUN tenor acuan akan bergerak stabil di kisaran 7,35%-7,4%, sementara yield obligasi dolar Indonesia (INDON) diperkirakan berada di rentang 5,6-5,7%.
Di sisi nilai tukar, tekanan terhadap rupiah dinilai masih akan berlanjut dan berpotensi berkonsolidasi di kisaran Rp18.000-Rp18.200/US$. Namun, Lionel menilai BI masih memiliki ruang untuk melakukan intervensi terbatas guna mendorong rupiah kembali bergerak ke rentang Rp17.800-Rp18.000/US$.
(dsp/aji)




























