Logo Bloomberg Technoz

"Hepatitis ini silent, maksudnya tidak langsung kelihatan gejalanya. Jadi orang enggak tahu kalau dirinya terkena, makanya deteksi dini penting," ujarnya.

Hepatitis B dan Hepatitis C umumnya tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Saat gejala mulai muncul, penderita dapat mengalami demam ringan, mudah lelah, hilang nafsu makan, mual dan muntah, nyeri pada perut bagian kanan atas, urin berwarna gelap seperti teh, tinja berwarna pucat, serta kulit dan bagian putih mata menguning (ikterus).

Menurut Andi, apabila infeksi tidak ditangani dengan baik, hepatitis dapat berkembang menjadi penyakit kronis dan memicu komplikasi serius, seperti sirosis hingga kanker hati.

"Dampaknya kalau dia kronis, misalnya tidak ditata laksana dengan baik, kita takutnya jadi kanker hati atau hati yang mengeras. Itu tentu fatalitasnya tinggi," katanya.

Untuk mencapai target eliminasi hepatitis pada 2030, Kemenkes menjalankan empat strategi utama, yakni pencegahan, penemuan kasus dan surveilans, penanganan kasus, serta promosi kesehatan. 

Upaya pencegahan dilakukan melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), imunisasi Hepatitis B, pencegahan penularan dari ibu ke anak, pemberian vaksin HB-0 dalam 24 jam setelah bayi lahir, HB Immunoglobulin bagi bayi dari ibu dengan HBsAg reaktif, hingga skrining donor darah.

Di sisi deteksi dini, Kemenkes memperluas skrining Hepatitis B pada ibu hamil dan kelompok berisiko serta skrining Hepatitis C pada pengguna napza suntik, pasien hemodialisis, warga binaan pemasyarakatan, dan orang dengan HIV/AIDS.

Pemerintah juga memperluas akses pemeriksaan viral load, pengobatan Hepatitis C menggunakan Direct Acting Antiviral (DAA), serta memperkuat pencatatan dan pelaporan berbasis digital.

Andi menambahkan hingga 2025 sebanyak 71,6% ibu hamil telah menjalani pemeriksaan HBsAg, dengan 1,36% di antaranya dinyatakan reaktif. 

Meski sejumlah provinsi seperti DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Bali, Riau, dan Sumatra Selatan telah mencatat capaian tinggi, Kemenkes masih mendorong peningkatan cakupan pemeriksaan terutama di Indonesia bagian timur.

Selain itu, edukasi masyarakat, penemuan kasus Hepatitis C pada kelompok berisiko, serta pemantauan bayi usia 9–12 bulan yang lahir dari ibu dengan HBsAg reaktif akan terus diperkuat untuk mengejar target eliminasi hepatitis pada 2030.

(dec/spt)

No more pages