“Sesuai dengan mekanisme dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, terutama mengacu kepada UU BI, maka yang pertama Presiden terima pengunduran diri Bapak Perry Warjiyo tentu disertai ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi beliau selama kurang lebih 7 tahun lamanya memimpin BI,” kata Prasetyo.
Andrey Wijaya, Head of Research RHB Sekuritas, menyebut pasar tersengat transisi kepemimpinan BI di tengah ketidakpastian. "Kami memperkirakan pergantian kepemimpinan ini dapat memicu ketidakpastian jangka pendek di pasar,” tutur Andrey.
Namun demikian, penunjukan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur BI seharusnya mampu memberikan keyakinan kepada pelaku pasar terhadap komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta mempertahankan stabilitas sistem keuangan akan tetap berlanjut.
Turut jadi perhatian, investor mencermati proses penunjukan Gubernur BI yang definitif. Transisi kepemimpinan yang berjalan mulus serta tetap menjaga kredibilitas dan independensi bank sentral akan membantu meminimalkan dampak terhadap pasar keuangan.
“Sebaliknya, apabila muncul indikasi perubahan signifikan dalam arah kebijakan moneter atau berkurangnya independensi bank sentral, hal tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas rupiah, pasar obligasi pemerintah, dan saham-saham sektor perbankan,” imbuh Andrey.
Senada, Mirae Asset Sekuritas Indonesia Research menyebut sentimen dari MH Thamrin berpotensi menekan pasar saham, dan dinilai bakal terjadi aksi jual yang cukup tajam, terutama pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun diperkirakan akan meningkat, yang pada akhirnya mendorong kenaikan tingkat suku bunga bebas risiko (risk–free rate).
“Ke depan, kami masih memperkirakan satu kali lagi kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6%. Namun demikian, arah kebijakan moneter berpotensi menjadi lebih pro-pertumbuhan (pro-growth), yang pada akhirnya dapat menimbulkan risiko terhadap stabilitas makroekonomi,” papar Mirae Asset.
(fad/aji)




























