Kebutuhan Domestik
Yayan menilai tingginya imbal hasil middle distillate pada minyak ESPO tersebut sejalan dengan pola konsumsi bahan bakar di Indonesia yang masih didominasi oleh solar dan bensin RON 90.
Agar kilang maksimal dalam menghasilkan avtur dan solar dalam jumlah besar, Yayan menilai operasional kilang perlu menyesuaikan cut-point pada kolom distilasi atmosfer serta reflux ratio untuk mengoptimalkan produksi heavy naphtha.
Sementara itu, dia mengungkapkan bahwa fraksi middle distillate perlu diarahkan ke unit hydrocracker agar menghasilkan avtur dan solar secara maksimal.
“ESPO menghasilkan proporsi distilat menengah yang tinggi [>52% pada rentang titik didih 150°C—350°C]. Permintaan domestik Indonesia sangat condong ke arah solar dan bensin RON 90,” tegas dia.
Dia juga menegaskan optimalisasi produksi avtur dan solar dari ESPO tidak memerlukan penggantian reaktor atau investasi baru di kilang.
Yayan mengungkapkan kilang PT Pertamina (Persero) hanya perlu mengatur proses hydrodesulfurization (HDS), optimasi desalter, serta penyesuaian titik potong fraksi agar hasil pengolahan sesuai dengan kebutuhan pasar domestik.
Dilaporkan Bloomberg Technoz sebelumnya, minyak mentah asal Rusia jenis ESPO terdeteksi telah memasuki Indonesia melalui Pelabuhan Lawe-Lawe usai diangkut melalui kapal tanker Sierra berbendera Kamerun.
Berdasarkan data Big Trade Data yang direkapitulasi Bloomberg, sebanyak 770.000 barel minyak telah dikirim ke pelabuhan di Kalimantan Timur tersebut pada 29 Juni 2026, dengan nilai sekitar US$75 juta.
Untuk diketahui, Pelabuhan Lawe-Lawe merupakan salah satu pintu masuk crude ke Kilang Balikpapan. PT Pertamina Patra Niaga (PPN) tercatat memiliki dua tangki penyimpanan minyak mentah di terminal Lawe-Lawe dengan kapasitas masing-masing 1 juta barel.
Selain itu, PPN juga memiliki fasilitas single point mooring (SPM) dengan kapasitas 320.000 dead weight ton (dwt). Fasilitas SPM tersebut tersambung dengan pipa ke pelabuhan Lawe-Lawe dan dari pelabuhan tersebut menuju Kilang Balikpapan.
Berdasarkan pantauan data pelayaran Marine Traffic, tanker Sierra telah meninggalkan Lawe-Lawe pada 30 Juni 2026. Saat ini tanker tersebut sudah berada kembali ke area labuh jangkar di Pelabuhan Vladivostok, Rusia.
Kapal pengangkut minyak mentah tersebut tercatat terkena sanksi oleh sejumlah negara, antara lain, di antaranya: Inggris, Uni Eropa (UE), Kanada, Australia, Ukraina, hingga Selandia Baru.
Adapun, Pertamina mengendalikan bisnis penyulingan minyak lewat subholding hilir Pertamina Patra Niaga. Saat ini, Pertamina mengoperasikan enam kilang dengan kapasitas pengolahan mencapai 1 juta barel per hari.
Sejumlah kilang itu termasuk refinery unit (RU) II Dumai dengan kapasitas 170.000 bph, RU III Plaju berkapasitas 126.000 bph, RU IV Cilacap berkapasitas 348.000 bph, RU V Balikpapan berkapasitas 360.000 bph, RU VI Balongan berkapasitas 150.000 bph, dan RU VII Kasim berkapasitas 10.000 bph.
Sekadar informasi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengklaim Indonesia bakal mengalami surplus solar sekitar 3 hingga 4 juta kiloliter (kl) setelah berlakunya biodiesel B50. Nantinya, pemerintah akan mendorong solar tersebut untuk diolah menjadi avtur.
Bahlil menyatakan bahwa kementeriannya sedang menyusun peta jalan pengembangan avtur bersama Pertamina Patra Niaga.
Dia pun menargetkan pembangunan pabrik pengolahan avtur dapat dimulai pada akhir 2026. Pabrik tersebut direncanakan agar Indonesia dapat menghentikan impor avtur.
"Tahap berikutnya, kita akan mendorong pembangunan pabrik avtur karena bahan baku avtur itu hampir sama dengan solar. [...] Tujuannya adalah kita akan mencoba untuk tidak lagi melakukan impor avtur," kata Bahlil setelah peresmian B50 di Karawang, Kamis (9/7/2026).
(azr/wdh)































