Dari domestik, kebijakan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di 5,75%, juga sedikit memberi angin segar bagi sektor riil. BI sepertinya mengambil jeda setelah menaikkan suku bunga kumlatif 100 basis poin (bps) sejak Mei untuk mengevaluasi perkembangan pertumbuhan ekonomi.
Samuel Sekuritas menilai, kini perhatian pasar akan bergeser ke arah fiskal, lantaran kebijakan moneter belakangan ini relatif stabil. "Ke depan, menjaga kepercayaan investor akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah mempertahankan defisit fiskal di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB)," sebut Samuel Sekuritas dalam catatannya.
Sebagai catatan, rata-rata harga minyak sepanjang tahun telah mencapai US$88 per barel, sementara asumsi dasar yang dijadikan acuan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tercatat US$70 per barel. Pagi ini, harga minyak kembali terdongkrak akibat gangguan pasokan akibat eskalasi perang yang kembali meningkat.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya impor bahan bakar bagi Indonesia, apalagi 60% kebutuhan bensin domestik masih dipenuhi melalui impor.
Sementara, Permata Institute for Economic Research (PIER) memperkirakan pelemahan rupiah akan mencapai puncaknya pada kuartal III-2026. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik.
Dari sisi eksternal, tekanan terbesar berasal dari kenaikan harga minyak akibat ketegangan Timur Tengah, permintaan dolar AS sebagai aset aman, serta ekspektasi suku bunga AS yang masih tinggi.
Dari sisi domestik, neraca eksternal yang mulai rapuh dan kepercayaan pasar yang belum sepenuhnya pulih masih membayangi rupiah. Neraca perdagangan Mei 2026 mencatat defisit US$1,16 miliar, defisit pertama dalam lebih dari enam tahun. Ini terjadi karena impor tumbuh 22,16% secara tahunan sementara ekspor melemah.
Impor yang kuat mencerminkan aktivitas domestik dan agenda pertumbuhan, tetapi juga menaikkan kebutuhan dolar AS, terutama untuk bahan baku, barang modal, dan energi. Pada saat yang sama, arus modal asing belum benar-benar solid karena arus masuk banyak ditopang oleh SRBI, sementara saham masih mencatat arus keluar.
Dengan kondisi dan sentimen yang membayangi, PIER memperkirakan rupiah akan bergerak di sekitar Rp18.000-Rp18.150/US$ pada kuartal III-2026, sebelum akhirnya dapat kembali menguat ke kisaran Rp17.906/US$ pada kuartal IV-2026. Tentu dengan syarat.
Pertama, tekanan global mereda dan membuat harga minyak kembali landai. Kedua, adanya perbaikan sentimen terhadap mata uang Asia di semester kedua, dengan tren dolar AS yang lebih lunak. Ketiga, rupiah berpotensi mendapat sentimen positif jika pasar melihat APBN tetap kredibel dan cadangan devisa cukup.
Analisis Teknikal
Secara teknikal nilai tukar rupiah sejatinya masih ada asa peluang menguat hari ini. Adapun rupiah berpotensi menguat ke resistance terdekat pada level Rp17.840/US$, resistance potensial selanjutnya menembus Rp17.800/US$ usai break trendline sebelumnya.
Rupiah juga terdapat level Rp17.710/US$ sebagai acuan paling optimistis penguatan rupiah di time frame daily-nya, atau dalam tren jangka menengah (mid-term).
Jika nilai tukar rupiah berbalik arah hingga kembali menuju level support pada level Rp17.900/US$, maka mengonfirmasi support selanjutnya pada level Rp17.950/US$ sebagai support psikologis juga Rp18.000/US$.
(riset)



























