"14 ikut beliau, saya tahu persis program MBG bukan untuk tujuan politis seperti yang dituduhkan orang, tapi sebagai program untuk benar-benar melakukan intervensi gizi anak-anak agar tumbuh menjadi generasi emas dan juga untuk menjaga kesehatan mereka," tulisnya.
Nanik juga membantah anggapan bahwa target 82 juta penerima manfaat MBG berkaitan dengan kepentingan Pemilu 2029. Menurutnya, mayoritas penerima manfaat saat ini merupakan anak balita hingga siswa sekolah dasar yang belum memiliki hak pilih pada pemilu mendatang.
"Kalau untuk tujuan politis, yang sekarang mayoritas penerima manfaat kan anak-anak balita sampai SD. Tiga tahun lagi, tahun 2029 mereka belum nyoblos. Jadi kalau ada yang bilang 82 juta penerima manfaat itu untuk Pemilu 2029, mohon diluruskan pemikiran itu agar kita bersama-sama bisa menerima program MBG sebagai program mulia untuk memperbaiki masa depan generasi kita,"ungkapnya.
Selain manfaat pemenuhan gizi, Nanik menilai program MBG juga memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat, terutama petani, peternak, dan pedagang pasar yang memasok kebutuhan pangan.
"Multiplier effect (efek ganda) dari program MBG juga bisa menggerakkan ekonomi bawah atau ekonomi masyarakat. Terbukti kemarin tiga minggu libur sekolah dan MBG libur, petani dan peternak mengeluh karena hasil pertanian dan peternakan mereka tidak terserap dan harganya jatuh. Demikian juga pedagang di pasar juga sampai harus membuang-buang sayur dan buahnya," tulis Nanik.
(dec/spt)




























