Logo Bloomberg Technoz

Langkah Tepat

Moshe juga mengapresiasi sikap pemerintah yang tetap mengimpor minyak mentah Rusia, meskipun terdapat ancaman sanksi yang dikenakan oleh negara Barat. 

Dia menilai Indonesia merupakan negara dengan politik luar negeri bebas aktif, sehingga dapat berbisnis dengan negara manapun.

“Jadi kita harusnya tidak boleh dipaksa atau terkena sanksi cuma gara-gara kita beli dari Rusia, karena perang itu bukan perang Indonesia, itu urusan mereka,” ungkap Moshe.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengonfirmasi Indonesia memang sudah memulai impor minyak mentah Rusia tahap pertama dengan harga yang diklaim lebih 'baik' dibandingkan dengan acuan Brent.

Bahlil menegaskan pelaksanaan impor minyak Rusia tahap awal ini dilakukan secara langsung di bawah koordinasi pemerintah melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas).  

"Tahap pertama sudah, dilakukan oleh Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan diperintahkan lewat Lemigas," ujar Bahlil saat ditemui awak media usai agenda Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026, Selasa (21/7/2026).

"Pemerintah, dalam hal ini Kementerian ESDM, berkepentingan untuk menjaga stok cadangan BBM kita. Saya tidak mau pusing mau ambil dari mana, yang penting tidak melanggar aturan, titik," tegas Bahlil.

Meski begitu, saat ditanya mengenai skema harga dan apakah minyak dari Rusia tersebut dibeli sesuai harga pasar, Bahlil enggan memerinci besaran angka secara spesifik.

"Jangan tanya harga lah, yang jelas lebih baik," tuturnya singkat.

Dilaporkan Bloomberg Technoz sebelumnya, minyak mentah asal Rusia jenis ESPO terdeteksi telah memasuki Indonesia melalui Pelabuhan Lawe-Lawe usai diangkut melalui kapal tanker Sierra berbendera Kamerun.

Berdasarkan data Big Trade Data, sebanyak 770.000 barel minyak telah dikirim ke pelabuhan di Kalimantan Timur tersebut pada 29 Juni 2026, dengan nilai sekitar US$75 juta.

Untuk diketahui, Pelabuhan Lawe-Lawe merupakan salah satu pintu masuk crude ke Kilang Balikpapan. PT Pertamina Patra Niaga (PPN) tercatat memiliki dua tangki penyimpanan minyak mentah di terminal Lawe-Lawe dengan kapasitas masing-masing 1 juta barel.

Berdasarkan pantauan data pelayaran Marine Traffic, tanker Sierra telah meninggalkan Lawe-Lawe pada 30 Juni 2026. Saat ini tanker tersebut sudah berada kembali ke area labuh jangkar di Pelabuhan Vladivostok, Rusia.

Kapal pengangkut minyak mentah tersebut tercatat terkena sanksi oleh sejumlah negara, antara lain, diantaranya: Inggris, Uni Eropa (UE), Kanada, Australia, Ukraina, hingga Selandia Baru.

5 Jenis Minyak Mentah Asal Rusia yang Terpantau Dicari Pertamina (Bloomberg Technoz/Asfahan)

Sekadar catatan, Kyiv School of Economics (KSE) Institute mencatat harga rata-rata minyak mentah ESPO dengan basis freight on board (FOB) Kozmino pada Mei 2026—atau periode kemungkinan Indonesia melakukan pemesanan — adalah US$95/barel atau naik US$2,3/barel dari rata-rata harga bulan sebelumnya.

Harga tersebut belum termasuk ongkos pengangkutan, asuransi pengiriman.

“Harga ESPO FOB Kozmino naik sekitar US$2,3/barel dan diperdagangkan di kisaran US$95/barel pada Mei,” tulis KSE Institute dalam riset berjudul Russian Oil Tracker edisi Juni 2026.

KSE mencatat diskon harga ESPO sepanjang Mei 2026 terhadap Brent menyempit sekitar US$13/barel. Dengan begitu, harga ESPO dinilai makin mendekati Brent.

Adapun, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), rata-rata Dated Brent pada Mei 2026 tercatat sekitar US$107,55/barel, turun US$12,99/barel dari rata-rata harga bulan sebelumnya di level US$120,55/barel.

Sementara itu, harga ICE Brent pada Mei 2026 tercatat sebesar US$103,71/barel. Dengan begitu, harga ESPO Mei 2026 hanya terpaut sekitar US$8,71/barel dari ICE Brent Mei 2026.

Jika dibandingkan dengan WTI Mei 2026, harga ESPO hanya terpaut US$3,51/barel dengan rata-rata harga WTI Mei 2026 sebesar US$98,51/barel.

Sekadar informasi, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo pertama kali mengungkapkan Indonesia mendapatkan komitmen pasokan minyak mentah dari Rusia dengan volume total sebesar 150 juta barel.

Komitmen tersebut diamankan Indonesia usai Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan ke Rusia dan bertemu langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Adik Prabowo tersebut mengungkapkan Putin memberikan komitmen kepada Prabowo agar negaranya memasok sekitar 100 juta barel minyak mentah dengan harga khusus dan dapat segera dikirimkan ke Indonesia.

Setelah itu, jika Indonesia membutuhkan tambahan pasokan, maka Rusia juga dapat memasok sekitar 50 juta barel minyak mentah ke Tanah Air.

“Dia [Prabowo] ke Moskwa ketemu Presiden Putin selama 3 jam dan dapat komitmen dari Presiden Putin 100 juta barel minyak itu akan segera dikirim ke Indonesia, 100 juta dengan harga khusus,” kata Hasim dalam agenda Economic Briefing 2026 yang diselenggarakan Garuda TV di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

(azr/wdh)

No more pages