Logo Bloomberg Technoz

Jika terealisasi, dan BI memberi sinyal bahwa siklus pengetatan masih berlanjut, rupiah berpotensi mempertahankan penguatannya dan bergerak di kisaran Rp17.900-Rp18.000/US$ di pasr spot

Tantangan Rupiah

Namun demikian, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede memproyeksikan pelemahan rupiah akan mencapai puncaknya pada kuartal III-2026 di sekitar Rp18.000-Rp18.150/US$ terutama dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik.

Dari sisi eksternal, tekanan terbesar berasal dari kenaikan harga minyak akibat ketegangan Timur Tengah, permintaan dolar AS sebagai aset aman, serta ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi.

Rupiah tercatat melemah paling dalam dalam hampir empat pekan karena ketegangan Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mendorong permintaan dolar AS; tekanan juga diperberat oleh kebutuhan pembayaran impor minyak dan jual bersih investor asing di Surat Berharga Negara (SBN).

Sementara dari sisi domestik, Josua menyebut rupiah masih terbebani oleh kondisi neraca eksternal yang mulai rapuh dan kepercayaan pasar yang belum sepenuhnya pulih. 

Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit US$1,16 miliar pada Mei 2026, yang merupakan defisit pertama dalam lebih dari enam tahun. Kondisi ini dipicu oleh lonjakan impor sebesar 22,16% secara tahunan di tengah pelemahan ekspor.

Josua menambahkan, meski mencerminkan masih kuatnya aktivitas ekonomi domestik dan dorongan pertumbuhan, tingginya impor juga meningkatkan permintaan dolar AS, terutama untuk pembelian bahan baku, barang modal, dan energi.

Di sisi lain, arus modal asing belum sepenuhnya kokoh. Aliran dana masih didominasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sementara pasar saham tetap mencatat arus keluar (capital outflow).

Dengan faktor domestik yang saling berkelindan di tengah tekanan eksternal, jika BI benar-benar mengambil langkah hawkish hari ini, diperkirakan hanya mampu menahan laju pelemahan rupiah dan menjaga stabilitas pasar keuangan dalam jangka pendek. 

"Karena itu, pelemahan rupiah pada kuartal III tidak harus dibaca sebagai kegagalan BI, melainkan sebagai fase ketika tekanan eksternal dan domestik bertemu pada waktu yang sama," sebut Josua. 

Hal ini menggambarkan bahwa stabilisasi rupiah ke depan tak cuma bergantung pada respons kebijakan moneter, tapi juga meredanya tekanan eksternal dan pulihnya kepercayaan investor terhadap aset keuangan domestik. 

(riset/aji)

No more pages