Logo Bloomberg Technoz

Hal ini membuat pasar jaringan kedai kopi mengalami pertumbuhan pesat, tak hanya di pasar Indonesia, tapi juga kawasan Asia.

Secara global, nilai pasar jaringan kedai kopi ritel (retail coffee chains) mencapai sekitar US$121,4 miliar pada 2024 dan diperkirakan meningkat menjadi US$176,65 miliar pada 2032, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 4,8% sepanjang periode 2025–2032.

Pertumbuhan ini didorong oleh laju urbanisasi, meningkatnya pendapatan masyarakat, serta semakin kuatnya budaya ngopi (cafe culture) di kalangan generasi muda.

Di sisi lain, perkembangan digital juga mempercepat ekspansi industri ini lewat layanan pemesanan daring, program loyalitas berbasis aplikasi, serta integrasi dengan platform layanan antar makanan. 

Asia Pasifik diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan industri ini. Berdasarkan data dari Seasia Stats, Indonesia sebenarnya memimpin pasar dengan nilai sekitar US$3,51 miliar.

Pasar ini dikuasai oleh jaringan ritel lokal seperti Janji Jiwa, Kopi Kenangan, dan Fore Coffee, ketiga perusahaan berhasil memanfaatkan besarnya pasar domestik sekaligus perubahan preferensi konsumen dengan memiliki banyak gerai. 

Setelah Indonesia, Thailand menyusul dengan nilai pasar sekitar US$2,25 miliar, lalu Vietnam dengan nilai pasar sekitar US$1,34 miliar.

Begitu juga dengan Singapura, meski ukuran pasarnya lebih kecil sekitar US$809 juta, tetap jadi pasar yang berpengaruh lantaran persaingan antar jaringan kedai kopi cukup ketat dan fokus pada segmen kopi premium. 

Tingkat persaingan yang tinggi, daya beli masyarakat yang kuat, serta posisinya sebagai pusat keuangan regional menjadikan negeri Merlion itu sebagai salah satu lokasi menarik bagi perusahaan konsumer yang ingin mengakses investor internasional. 

Jadi Milik Publik

Prospek pasar yang besar, membuat perusahaan jaringan kedai kopi berlomba memperluas jaringan gerainya. Menawarkan saham ke publik, menjadi salah satu strategi pendanaan yang ditempuh untuk mendukung ekspansi bisnis mereka. Selain itu, langkah ini tentu berpotensi memberi peluang monetisasi bagi para pemegang saham.  

Strategi serupa sudah ditempuh oleh PT Fore Kopi Indonesia, Tbk (FORE), salah satu jaringan ritel kedai kopi telah lebih dulu mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. 

FORE resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia pada 15 April 2024. Perusahaan kopi tersebut melepas sebanyak 1,88 miliar saham ke publik, setara 21,08% dari total modal disetor penuh. Dengan harga penawaran Rp188 per saham, perusahaan berhasil menghimpun dana segar sekitar Rp353,44 miliar.

Harga saham FORE (Bloomberg)

Dua tahun setelah IPO, respons pasar terhadap saham FORE relatif positif. Melansir data Bloomberg, pada Selasa (21/7/2026), harga saham FORE berada di Rp630, naik 1,61% dari posisi kemarin, atau meningkat 235% dibandingkan harga penawaran perdananya. 

Kinerja tersebut menunjukkan bahwa investor masih menaruh minat terhadap emiten yang bergerak di sektor konsumsi dengan prospek pertumbuhan jangka panjang. 

Kualitas Pertumbuhan

Namun perlu dicatat, besarnya potensi pasar bukan berarti seluruh pelaku industri akan menikmati pertumbuhan yang sama. Malah, pada fase berikutnya, industri jaringan kedai kopi diperkirakan akan mengalami seleksi alam yang bisa jadi lebih ketat. 

Perusahaan tak lagi cukup hanya mengandalkan ekspansi gerai. Lebih dari itu, kemampuan menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan jadi faktor yang jauh lebih penting. 

Hal ini tercermin dari semakin besarnya perhatian investor terhadap indikator seperti same-store sales growth (SSSG), margin laba, arus kas operasional, serta tingkat pengembalian investasi dari setiap gerai baru. 

Berdasarkan riset industri yang digelar PT Bank Permata Tbk (BNLI), konsumsi rumah tangga menjadi fondasi utama pertumbuhan industri makanan dan minuman (food & beverages/F&B). Kesehatan industri ini sangat ditentukan oleh konsumsi masyarakat, pertumbuhan kelas menengah, jumlah penduduk, serta demografi. 

Di sisi lain, kemampuan perusahaan dalam membukukan margin sangat dipengaruhi oleh harga bahan baku. Biaya bahan baku mencapai 85,3% dari total biaya produksi industri makanan, sementara sekitar 64,1% pada industri minuman. Dengan demikian, sedikit saja harga komoditas naik, maka laba perusahaan bisa langsung tergerus. 

Untuk memastikan sebuah perusahaan memiliki kemampuan tersebut, investor perlu memperhatikan apakah perusahaan bergantung pada bahan baku impor, tidak memiliki kontrak pembelian jangka panjang, dan memiliki margin tipis. Jika jawaban iya, maka investor patut waspada dengan kemampuan perusahaan mencetak laba. 

Sebab, industri F&B domestik sedang dilanda berbagai tantangan. Di antaranya, volatilitas harga komoditas akibat gangguan pasokan, tingginya harga minyak berpotensi membuat biaya logistik jadi lebih mahal. Selain itu, inflasi pangan akibat ancama El Niño juga mengintai. 

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan investor: 

Faktor

Mengapa penting

Margin kotor

Menunjukkan kemampuan menyerap kenaikan biaya bahan baku

Ketergantungan pada bahan baku impor

Semakin tinggi impor, semakin sensitif terhadap pelemahan rupiah

Diversifikasi bahan baku

Mengurangi risiko lonjakan harga komoditas

Pricing power

Kemampuan menaikkan harga tanpa kehilangan pelanggan

Distribusi

Menentukan skala dan efisiensi

Inovasi produk

Siklus tren F&B semakin cepat

Arus kas operasional

Pertumbuhan penjualan tanpa kas yang sehat dapat berisiko

Segmen konsumen

Premium dan mass market memiliki dinamika yang berbeda

Kopi Kenangan

Dalam unggahan di LinkedIn pada Januari lalu, pendiri sekaligus Group Chief Executive Kopi Kenangan Edward Tirtanata mengklaim bahwa pendapat bersih (net revenue) perusahaan pada 2025 meningkat 45% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi US$184 juta, sementara laba bersih mencapai US$17 juta. 

Perusahaan kini mengoperasikan lebih dari 1.324 gerai. Sepanjang 2026, perusahaan berencana membuka sekitar 550 gerai menjadi 1.848 gerai. Sejalan dengan itu, pendapatan diperkirakan meningkatn menjadi US$265 juta. 

Sementara, pertumbuhan laba diproyeksikan melampaui pertumbuhan penjualan. Masih dari unggahan yang sama, EBITDA diklaim dapat melonjak dari US$18 juta pada 2024, menjadi US$69 juta pada 2026, dengan EBITDA margin 2026 diproyeksikan sebesar 26%. 

Proyeksi Pertumbuhan Kopi Kenangan. (Dok. Istimewa)

Jika terealisasi, kondisi menggambarkan perusahaan mulai menikmati manfaat skala ekonomi (economies of scale), efisiensi rantai pasok, dan penyebaran biaya tetap ke jaringan gerai yang semakin jumbo. 

Meski demikian, angka-angka tersebut masih perlu dicermati karena sebagain besar merupakan proyeksi 2026, belum menjadi realisasi. Dari persepektif pasar modal, narasi pertumbuhan yang diikuti dengan adanya peningkatan keuntungan memang kerap jadi daya tarik utama menjelang IPO. 

Namun, investor sebaiknya tidak terpaku pada pertumbuhan jumlah gerai atau laba yang diproyeksikan. Lebih dari itu, investor perlu memperhatikan indikator penting yang sepertinya belum diungkap perusahaan kepada publik.

Seperti SSSG untuk mengukur produktivitas gerai, kebutuhan belanja modal dan sumber pendanaan ekspansi, arus kas operasional, serta realistis atau tidaknya target margin tersebut di tengah kenaikan harga biji kopi, biaya logistik, dan tekanan nilai tukar rupiah. 

Sebagai catatan, mengutip data Harga Komoditas Bank Dunia (The Pink Sheet) Edisi Juli 2026, harga biji kopi robusta masih bertahan di level tinggi. Sepanjang 2025, harga rata-ratanya mencapai US$4,86 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan rata-rata US$2,63 per kilogram pada 2023 dan US$4,41 per kilogram pada 2024. Memasuki semester II-2026, harga rata-rata memang mulai melandai ke US$3,85 per kilogram, namun tetap berada jauh di atas level dua tahun sebelumnya.

Begitu juga dengan nilai tukar rupiah. Bank Permata yang memperkirakan pelemahan rupiah mencapai puncaknya pada kuartal III-2026 di sekitar Rp18.000-Rp18.150/US$. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. 

Di tengah tantangan itu, tentu tak mudah mengatur arus kas operasional gerai agar tetap membukukan keuntungan di tengah daya beli masyarakat yang sedang melandai. 

(dsp)

No more pages