Logo Bloomberg Technoz

Respons negatif pasar mencerminkan kekhawatiran bahwa tahap berikutnya dari pemulihan Burberry di bawah kepemimpinan Joshua Schulman akan menjadi lebih menantang.

Schulman memulai upaya membangkitkan kembali merek mewah asal Inggris tersebut dua tahun lalu dengan mengurangi persediaan barang, menurunkan harga, serta kembali memfokuskan bisnis pada produk-produk ikonik Burberry. Strateginya untuk memperbaiki tampilan produk di toko, termasuk melalui penggunaan manekin dan area khusus syal (scarf bars), berhasil menarik kembali pelanggan lama sekaligus menjangkau konsumen baru.

Namun, analis Jefferies yang dipimpin James Grzinic menilai bahwa faktor-faktor terbesar yang mendorong pemulihan laba Burberry—termasuk efisiensi biaya—kini sebagian besar telah tercapai. Menurut mereka, pemulihan margin keuntungan selanjutnya akan sangat bergantung pada kemampuan Burberry mencatat pertumbuhan penjualan di toko yang telah beroperasi (same-store sales) yang melampaui ekspektasi pasar.

"Kini bola berada di tangan manajemen untuk mempertahankan momentum pemulihan dan membuatnya semakin kuat," tulis analis Bernstein, Luca Solca dan Maria Meita, dalam sebuah riset.

Burberry sendiri menyampaikan optimisme dengan menyoroti kuatnya penjualan produk pakaian luar (rainwear). Perusahaan juga mengatakan kampanye "Portraits of an Icon" yang menampilkan sejumlah selebritas, termasuk Teyana Taylor dan Wu Lei, berhasil menarik pelanggan baru.

Meski dikenal lewat produk pakaian luar seperti mantel parit (trench coat) dan syal, Burberry juga mulai memperluas lini produk musiman dengan meluncurkan koleksi pakaian renang bersama label asal Inggris Hunza G. Perusahaan juga menggelar gerai pop-up yang menampilkan sampel lini parfum mereka.

Burberry mendapat manfaat dari strategi produk yang dijalankan secara sangat terarah, kata Schulman kepada para analis dalam konferensi telepon.

Di China, konsumen dari kalangan Generasi Z (Gen Z) mulai membeli lebih banyak produk Burberry. Sementara itu, Korea Selatan menjadi salah satu titik terang dengan pertumbuhan penjualan 11% pada kuartal tersebut.

Meski demikian, pertumbuhan di kawasan Asia Pasifik masih berada di bawah ekspektasi karena Jepang menerima lebih sedikit wisatawan asal China.

Chief Financial Officer (CFO) Burberry, Kate Ferry, mengatakan kepada wartawan bahwa penurunan belanja wisatawan merupakan dampak utama dari perang di Timur Tengah. Meskipun eksposur Burberry terhadap kawasan tersebut relatif kecil—dengan Timur Tengah hanya menyumbang sekitar 2% dari total penjualan—dampaknya tetap menekan penjualan di wilayah yang lebih luas, termasuk Eropa.

Penurunan penjualan sebesar 3% di kawasan tersebut lebih besar dibandingkan perkiraan analis.

Burberry juga mengumumkan rencana membuka toko baru di Via Montenapoleone, kawasan belanja mewah di Milan, pada 2028.

(bbn)

No more pages