Logo Bloomberg Technoz

“Brent sempat naik ke sekitar US$90,79/barel setelah serangan AS terhadap Iran dan serangan terhadap kapal, sementara Selat Hormuz menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia,” tegasnya.

Setala, ekonom Center Of Reform On Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet memandang harga minyak mentah dunia bakal berada di kisaran US$85—US$95/barel, jika ketegangan mereda dalam waktu dekat dan arus pengiriman melalui Selat Hormuz tetap normal.

“Jika ketegangan mereda dalam waktu dekat dan arus pengiriman melalui Selat Hormuz tetap normal, Brent berpotensi bergerak di kisaran US$85—US$95 per barel,” ujar Yusuf ketika dihubungi, Selasa (21/7/2026).

Bagaimanapun, Yusuf mencatat sebelumnya sejumlah langkah sudah dilakukan oleh berbagai negara untuk meredam harga minyak mentah ke level US$70/barel. 

International Energy Agency (IEA), misalnya, sudah mengumumkan bakal melepas sekitar 400 juta barel cadangan minyak mentah darurat, sementara OPEC+ menambah produksi secara bertahap.

Saat ini, Yusuf menilai sebagian besar cadangan penyangga sudah digunakan dan kapasitas produksi cadangan juga terbatas.

Dengan begitu, setiap eskalasi baru akan memberi dampak yang lebih besar terhadap harga minyak dunia karena pasar menjadi jauh lebih sensitif.

“Bahkan lembaga seperti EIA [Badan Informasi Energi AS] juga beberapa kali mengubah proyeksinya dalam waktu singkat, yang menunjukkan betapa tingginya ketidakpastian saat ini,” tegas dia.

Pasar minyak global terhindar dari tekanan ekstrem selama fase pertama perang Iran, tetapi pertempuran melawan AS yang kembali terjadi kali ini membawa risiko lonjakan harga minyak yang lebih besar di dunia lantaran cadangan di begitu banyak negara telah menipis ke level berbahaya.

Ketika Selat Hormuz pertama kali ditutup pada Maret, banyak yang memperkirakan krisis energi akan segera terjadi.

Akan tetapi, berkat pelepasan cadangan minyak darurat, aliran pasokan diam-diam dari beberapa negara Teluk Persia, serta kemampuan China yang mengejutkan untuk menekan impor, memberi dunia cukup waktu untuk menghindari skenario terburuk.

Pada saat AS dan Iran menandatangani kesepakatan damai mereka pada Juni, pasar tampak lebih banyak pasokannya daripada yang dikhawatirkan banyak orang di awal perang.

Lonjakan ekspor Timur Tengah selanjutnya bahkan menciptakan surplus di Asia, mendorong beberapa negara untuk membuat rencana untuk mengisi kembali stok karena harga minyak mentah anjlok.

Sekarang, para pedagang (trader) memperingatkan bahaya pasokan yang akan datang — terutama untuk bahan bakar olahan.

Jika eskalasi seteru AS dan Iran pada dasarnya berujung penutupan Selat Hormuz sekali lagi — bersamaan dengan pemboman kilang minyak oleh Ukraina yang menciptakan krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dan telah memangkas ekspor bahan bakar dari Rusia — cadangan minyak dunia mungkin terlalu menipis untuk menahan harga.

“Jika situasi saat ini berlangsung lebih lama, dan Selat Hormuz tertutup, maka kita mungkin akan kembali mengalami beberapa kesulitan,” kata Fatih Birol, direktur eksekutif IEA, dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg TV.

Kendati demikian, upaya-upaya diplomasi terus berjalan di belakang layar. Pihak Iran menyampaikan bahwa para mediator telah menjalin komunikasi dan membawa usulan guna meredakan ketegangan usai rentetan bentrokan sengit selama sepekan terakhir.

Esmail Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran, mengatakan “gagasan dari beberapa mediator telah disampaikan” kepada Teheran, tanpa memberikan detail lebih lanjut.

Minyak Brent untuk penyelesaian September turun 0,8% menjadi US$88,47/barel pada pukul 12:03 siang di Singapura.

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus, yang berakhir pada Selasa, turun 0,5% menjadi US$82,98/barel. Kontrak September yang lebih aktif turun 0,5% menjadi US$82,08/barel.

(azr/wdh)

No more pages