Selain persoalan harga, Hadi juga mengingatkan potensi risiko dari kerja sama impor minyak Rusia yang masih dikenai sanksi oleh Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara Barat.
Menurut Hadi, apabila terdapat ketentuan yang membatasi keterlibatan dengan entitas dari negara yang dikenai sanksi, maka pembelian minyak mentah Rusia berpotensi memunculkan konsekuensi terhadap hubungan pembiayaan maupun kerja sama bisnis.
“Jika dilanggar, maka punishment akan dikenakan dan tidak ada lagi korporasi keuangan AS yang mau deal dengan korporasi dengan Indonesia. Ini tantangan yang tidak mudah diselesaikan kalau sudah urusan finance,” tegasnya.
Berdasarkan data platform informasi dan perdagangan komoditas Echemi, harga minyak mentah ESPO untuk pasar spot di China atau Shandong ESPO Spot pada 17 Juli 2026 berada di level US$89,1/barel. Sementara itu, harga minyak mentah ESPO forward spot di pasar China, pada 20 Juli 2026 tercatat US$81,08/barel.
Harga minyak ESPO di pasar forward spot China ini terpaut sekitar US$9,64/barel dibandingkan dengan ICE Brent, yang dilego di kisaran US$90,20/barel pada awal pekan ini.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) pada hari ini diperdagangkan US$84,25/barel, sehingga minyak ESPO di pasar forward spot China hanya terpaut sekitar US$3,54/barel dengan WTI.
Kyiv School of Economics (KSE) Institute mencatat harga rata-rata minyak mentah ESPO dengan basis freight on board (FOB) Kozmino pada Mei 2026—atau periode kemungkinan Indonesia melakukan pemesanan — adalah US$95/barel atau naik US$2,3/barel dari rata-rata harga bulan sebelumnya.
Harga tersebut belum termasuk ongkos pengangkutan, asuransi pengiriman.
“Harga ESPO FOB Kozmino naik sekitar US$2,3/barel dan diperdagangkan di kisaran US$95/barel pada Mei,” tulis KSE Institute dalam riset berjudul Russian Oil Tracker edisi Juni 2026.
KSE mencatat diskon harga ESPO sepanjang Mei 2026 terhadap Brent menyempit sekitar US$13/barel. Dengan begitu, harga ESPO dinilai makin mendekati Brent.
Adapun, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), rata-rata Dated Brent pada Mei 2026 tercatat sekitar US$107,55/barel, turun US$12,99/barel dari rata-rata harga bulan sebelumnya di level US$120,55/barel.
Sementara itu, harga ICE Brent pada Mei 2026 tercatat sebesar US$103,71/barel. Dengan begitu, harga ESPO Mei 2026 hanya terpaut sekitar US$8,71/barel dari ICE Brent Mei 2026.
Jika dibandingkan dengan WTI Mei 2026, harga ESPO hanya terpaut US$3,51/barel dengan rata-rata harga WTI Mei 2026 sebesar US$98,51/barel.
“Sebelum invasi, minyak mentah Urals FOB secara konsisten diperdagangkan dengan diskon US$1—US$2 per barel dibandingkan dengan Dated Brent, sementara minyak mentah ESPO FOB diperdagangkan dengan premi kecil,” tulis KSE Institute.
Adapun, berdasarkan catatan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), jenis minyak mentah ESPO secara konsisten diperdagangkan di atas batas harga (price cap) yang ditetapkan sejumlah negara Barat terhadap minyak mentah Rusia.
CREA mencatat batas harga minyak Rusia yang ditetapkan di level US$60/barel dan turun menjadi US$44,1/barel mulai 1 Februari 2026 tidak berlaku bagi minyak mentah ESPO.
“Minyak mentah ESPO secara konsisten diperdagangkan jauh di atas batas tersebut karena orientasi strukturalnya ke pasar China dan Pasifik,” tulis CREA dalam catatannya.
Sekadar informasi, kapal tanker Sierra berbendera Kamerun dikabarkan telah mengirimkan sekitar 770.000 ribu barel minyak mentah ESPO ke pelabuhan Lawe-Lawe, Kalimantan Timur dari pelabuhan muat Kozmino di Rusia.
Minyak mentah tersebut disebut-sebut diimpor oleh badan layanan umum (BLU), Lemigas dengan nilai sekitar US$75 juta.
Berdasarkan data pelayaran Marine Traffic, tanker Sierra telah meninggalkan Lawe-Lawe pada 30 Juni 2026. Saat ini tanker tersebut berada di area labuh jangkar di Pelabuhan Vladivostok, Rusia.
Kapal pengangkut minyak mentah tersebut tercatat terkena sanksi oleh sejumlah negara, antara lain; Inggris, Uni Eropa (UE), Kanada, Australia, Ukraina, hingga Selandia Baru.
Pelabuhan Lawe-Lawe merupakan salah satu pintu masuk crude ke Kilang Balikpapan. PT Pertamina Patra Niaga (PPN) tercatat memiliki dua tangki penyimpanan minyak mentah di terminal Lawe-Lawe dengan kapasitas masing-masing 1 juta barel.
Sekadar informasi, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo pertama kali mengungkapkan Indonesia mendapatkan komitmen pasokan minyak mentah dari Rusia dengan volume total sebesar 150 juta barel.
Komitmen tersebut diamankan Indonesia usai Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan ke Rusia dan bertemu langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Adik Prabowo tersebut mengungkapkan Putin memberikan komitmen kepada Prabowo agar negaranya memasok sekitar 100 juta barel minyak mentah dengan harga khusus dan dapat segera dikirimkan ke Indonesia.
Setelah itu, jika Indonesia membutuhkan tambahan pasokan, maka Rusia juga dapat memasok sekitar 50 juta barel minyak mentah ke Tanah Air.
“Dia [Prabowo] ke Moskwa ketemu Presiden Putin selama 3 jam dan dapat komitmen dari Presiden Putin 100 juta barel minyak itu akan segera dikirim ke Indonesia, 100 juta dengan harga khusus,” kata Hasim dalam agenda Economic Briefing 2026 yang diselenggarakan Garuda TV di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
(azr/wdh)































