Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Economics menilai langkah tersebut diperlukan karena pelemahan rupiah kembali menekan bank sentral, meskipun BI telah menaikkan suku bunga 100 bps secara kumulatif sejak 20 Mei. 

Meski BI mengambil langkah ketat, rupiah kembali melemah dan menghapus sebagian penguatan yang sempat terjadi pada awal Juni. Bahkan rupiah mencatatkan kinerja yang lebih lemah dibandingkan mayoritas mata uang negara berkembang lainnya. 

Indikator stabilitas nilai tukar juga dinilai menunjukkan bahwa pengetatan moneter lebih lanjut masih diperlukan untuk menjaga kepercayaan pasar dan menstabilkan rupiah. 

Sejalan dengan pandangan Bloomberg, Mega Capital Sekuritas dalam catatannya menyebut bahwa BI perlu kembali menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga rupiah tetap berada di rentang Rp17.700-Rp18.100/US$. 

Sementara, menurut Permata Bank Institute for Economic Research (PIER), pelemahan rupiah diperkirakan akan mencapai puncak pada kuartal III-2026 di sekitar Rp18.180/US$. Setelah itu, rupiah diproyeksikan kembali menguat, dengan rata-rata di tahun depan rupiah diperkirakan kembali ke kisaran Rp17.469/US$. 

PIER menilai, pelemahan rupiah secara nominal tidak sepenuhnya mencerminkan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia. Sebaliknya, depresiasi lebih banyak dipengaruhi oleh kekuatan dolar AS, risk-off global, serta perpindahan modal internasional. 

Di tengah eskalasi perang yang kembali memanas, rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif di rentang Rp17.900-Rp18.050/US$, dengan bias melemah pada perdagangan spot jangka pendek, seiring pelaku pasar yang cenderung mengambil langkah hati-hati menjelang RDG. 

(riset/aji)

No more pages