“Crude oil ESPO Max 315 MB [315.000 barel]. Delivery CFR/DAP RU VI Balongan [Kilang Balongan],” tulis PPN.
Dalam dokumen pengadaan minyak mentah selanjutnya yang diumumkan 8 Juni 2026, perseroan juga mengumumkan rencana pembelian minyak mentah secara spot untuk pengiriman Juli 2026 dan Agustus 2026.
Jenis Lainnya
PPN juga tercatat mencari minyak mentah Rusia jenis Novy Port untuk pengiriman Juli yang rencananya dikirim ke Kilang Cilacap dan Kilang Balikpapan.
Berdasarkan catatan S&P Global Energy, Novy Port adalah minyak mentah dengan karakteristik light sweet yang diproduksi oleh Gazprom Neft dari wilayah Arktik Rusia.
Dalam dokumen yang sama, PPN juga mencari minyak Rusia jenis Sokol buat pengiriman Juli 2026 untuk Kilang Cilacap.
S&P Global Energy juga mencatat minyak Sokol berkarakteristik light sweet dan disebut-sebut sering bersaing dengan minyak mentah light sour asal Timur Tengah, seperti minyak mentah Murban dari Abu Dhabi.
Lalu, PPN juga mencari minyak mentah Rusia jenis Sakhalin Vityaz untuk pengiriman Agustus 2026 ke Kilang Cilacap.
Masih dalam dokumen yang sama, PPN kembali mencari minyak mentah jenis ESPO untuk pengiriman Agustus 2026 ke Kilang Cilacap, Kilang Balikpapan, dan Kilang Balongan.
Selain itu, PPN mencari minyak Rusia jenis Zaikinskaya untuk pengiriman Agustus 2026 ke Kilang Cilacap.
Lebih lanjut, dalam dokumen pengumuman rencana pembelian minyak mentah secara spot untuk pengiriman Juli dan Agustus 2026 yang dipublikasikan 22 Juni 2026, PPN kembali tercatat mencari minyak mentah Rusia.
PPN mencari minyak mentah Rusia jenis Sokol untuk periode pengiriman Agustus 2026 ke Kilang Cilacap dan Kilang Balikpapan.
Kemudian, PPN masih mencari minyak mentah jenis Espo untuk pengiriman Juli 2026 ke Kilang Cilacap. Untuk pengiriman Agustus 2026 perseroan juga mencari minyak ESPO untuk Kilang Balikpapan dan Kilang Balongan.
Saat dimintai konfirmasi, Corporate Secretary PPN Roberth MV Dumatubun menyatakan belum dapat memberikan tanggapan ihwal pengadaan minyak mentah Rusia tersebut.
“Terkait hal tersebut kami masih menunggu, sehingga kami belum bisa berstatement,” kata Roberth ketika dihubungi, Senin (20/7/2026).
Adapun, menurut data bea cukai yang dikumpulkan oleh Big Trade Data dan dilansir Bloomberg, hampir 770.000 barel minyak telah dikirim ke pelabuhan Balikpapan pada 29 Juni, nilainya sekitar US$75 juta.
Pelabuhan muat yang terdaftar adalah Kozmino di Rusia, dan minyak tersebut diangkut dengan kapal tanker Sierra.
Kargo Rusia tersebut dibeli oleh badan pemerintah yang dikenal sebagai Lemigas, yang tanggung jawab utamanya ialah menguji bahan bakar.
Dalam perkembangannya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyatakan minyak mentah yang diimpor dari Rusia akan dilakukan pencampuran menjadi Indonesia Blend.
Yuliot mengatakan pengadaan minyak mentah yang dilakukan Indonesia bisa dilakukan dengan skema Indonesia Blend, yakni minyak mentah yang diterima dari pemasok merupakan pasokan hasil pencampuran.
Dia juga memastikan minyak mentah yang didatangkan dari Rusia diimpor oleh Badan Layanan Umum (BLU), dalam hal ini Lemigas.
“Untuk pengadaan minyak itu kan ada Indonesia Blend. Indonesia Blend itu kan minyak itu kan melalui supplier yang ada. Jadi supplier yang ada yang kita terima dalam negeri adalah dalam bentuk blending, Nusantara Blending,” kata Yuliot kepada awak media, di Kompleks DPR, Kamis (16/7/2026).
“Kalau untuk kerja sama antarnegara itu mekanismenya adalah melalui BLU sektor energi, jadi kalau BLU sektor energi itu ada yang ini Lemigas,” tegasnya.
Yuliot juga memastikan impor minyak mentah Rusia yang dilakukan Lemigas bakal disimpan pada tangki penyimpanan atau storage tank untuk dijadikan cadangan penyangga energi (CPE).
(wdh)





























