Lalu, Uni Eropa (UE) dan Swiss memberlakukan sanksi terhadap kapal tersebut masing-masing pada 17 September dan 23 Desember 2024.
Selanjutnya, pada 21 Februari 2025, Kanada menjatuhkan sanksi pada tanker tersebut.
Kemudian, pada 4 Desember 2025 Australia mengenakan sanksi terhadap kapal itu dan diikui oleh Ukraina yang menetapkakn sanksi pada 13 Desember 2025.
Terbaru, Selandia Baru menjatuhkan sanksi terhadap tanker Sierra pada 20 Februari 2026.
Kapal Sierra disebut terlibat dalam ekspor minyak mentah Rusia dari pelabuhan Rusia di Laut Baltik, selama periode embargo minyak G7 dan UE.
Kapal tersebut juga terlibat dalam ekspor minyak mentah Rusia ketika kebijakan pembatasan harga terhadap minyak Rusia ditetapkan oleh negara Barat.
Selain itu, kapal tersebut juga disebut terlibat dalam pelayaran yang menipu dan berisiko tinggi yakni mematikan sistem automatic identification system (AIS) atau sistem pelacakan kapal—praktik tersebut merupakan salah satu ciri shadow fleet.
Dijelaskan bahwa kapal tersebut melalui perusahaan Sun Ship Management dan Stream Ship Management FZCO berafiliasi dengan perusahaan pelayaran Rusia, PJSC Sovcomflot–yang dikenai sanksi.
“Penyewa utama kapal-kapal PJSC Sovcomflot adalah perusahaan-perusahaan minyak dan gas serta pedagang terbesar di Rusia. Sovcomflot turut serta dalam mendukung proyek-proyek minyak dan gas besar di Rusia; Sakhalin-1, Sakhalin-2, Varandey, Prirazlomnoye, Novy Port, Yamal LNG, dan lainnya,” sebagaimana tertulis dalam situs tersebut.
Minyak Rusia
Berdasarkan data pelayaran Marine Traffic, tanker Sierra telah meninggalkan Lawe-Lawe pada 30 Juni 2026. Saat ini tanker tersebut berada kembali di area labuh jangkar di Pelabuhan Vladivostok, Rusia.
Pelabuhan Lawe-Lawe merupakan salah satu pintu masuk crude ke Kilang Balikpapan. PT PPN tercatat memiliki dua tangki penyimpanan minyak mentah di terminal Lawe-Lawe, Kalimantan Timur dengan kapasitas masing-masing 1 juta barel.
Selain itu, PPN juga memiliki fasilitas single point mooring (SPM) dengan kapasitas 320.000 dwt. Fasilitas SPM tersebut tersambung dengan pipa ke pelabuhan Lawe-Lawe dan dari pelabuhan tersebut menuju Kilang Balikpapan.
Dalam dokumen pengadaan minyak mentah PPN, tercatat perusahaan pelat merah tersebut sempat mengumumkan rencana pembelian minyak mentah secara spot ke Kilang Balongan untuk pengiriman Juni.
Dalam dokumen tersebut, salah satu minyak mentah yang dicari oleh PPN merupakan jenis ESPO atau minyak mentah asal Rusia.
Disebutkan bahwa PPN mencari minyak mentah ESPO maksimal 315.000 barel pada pengadaan yang diumumkan 29 Mei 2026.
Kendati begitu, belum diketahui pasti volume minyak mentah yang telah masuk ke Indonesia melalui pelabuhan Lawe-Lawe dan kilang mana yang mengolahnya.
“Pada Jumat, 29 Mei 2026, PT Pertamina Patra Niaga mengumumkan rencana pembelian secara spot minyak mentah ke RU VI Balongan untuk periode pengiriman Juni 2026,” sebagaimana tertulis dalam dokumen pengumuman pengadaan minyak mentah PPN.
“Crude oil ESPO Max 315 MB [315.000 barel]. Delivery CFR/DAP RU VI Balongan [Kilang Balongan],” tulis PPN dalam dokumen yang dilihat Bloomberg Technoz tersebut.
Saat dimintai konfirmasi, Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengatakan belum dapat memberikan komentar ihwal impor minyak mentah asal Rusia tersebut.
“Khusus untuk hal ini sementara belum bisa saya berkomentar,” kata Laode kepada Bloomberg Technoz, Senin (20/7/2026).
Setala, Corporate Secretary PPN Roberth MV Dumatubun menyatakan belum dapat memberikan tanggapan ihwal pengadaan minyak mentah Rusia tersebut.
“Terkait dengan hal tersebut kami masih menunggu, sehingga kami belum bisa ber-statement,” kata Roberth ketika dihubungi, Senin (20/7/2026).
Adapun, menurut data bea cukai yang dikumpulkan oleh Big Trade Data dan dilansir Bloomberg, hampir 770.000 barel minyak telah dikirim ke Indonesia dengan nilai sekitar US$75 juta.
Pelabuhan muat yang terdaftar adalah Kozmino di Rusia, dan minyak tersebut diangkut dengan kapal tanker Sierra. Kargo Rusia tersebut dibeli oleh Badan Layanan Umum (BLU) Lemigas.
Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan impor minyak mentah Rusia yang dilakukan Lemigas bakal disimpan pada tangki penyimpanan atau storage tank untuk dijadikan cadangan penyangga energi (CPE).
Dia mengklaim bakal mengecek terlebih dahulu volume impor yang dilakukan Lemigas, termasuk apakah benar bakal menuju Balikpapan atau lokasi lainnya.
“Untuk pengadaan minyak itu kan ada Indonesia Blend. Indonesia Blend itu kan minyak itu kan melalui supplier yang ada. Jadi supplier yang ada yang kita terima dalam negeri adalah dalam bentuk blending, Nusantara Blending,” kata Yuliot kepada awak media, di Kompleks DPR, Kamis (16/7/2026).
(wdh)





























