Kapal pengangkut minyak mentah tersebut tercatat terkena sanksi oleh sejumlah negara, antara lain; Inggris, Uni Eropa (UE), Kanada, Australia, Ukraina, hingga Selandia Baru.
Pengadaan PPN
Dalam dokumen pengadaan minyak mentah PPN, subholding downstream PT Pertamina (Persero) tersebut sempat mengumumkan rencana pembelian minyak mentah secara spot ke Kilang Balongan untuk pengiriman Juni.
Dalam dokumen tersebut, salah satu minyak mentah yang dicari oleh PPN merupakan jenis ESPO atau minyak mentah asal Siberia Timur, Rusia.
Disebutkan bahwa PPN mencari minyak mentah ESPO maksimal 315.000 barel pada pengadaan yang diumumkan 29 Mei 2026.
Kendati begitu, belum diketahui pasti volume minyak mentah yang telah masuk ke Indonesia melalui pelabuhan Lawe-Lawe dan kilang mana yang mengolahnya.
“Pada Jumat, 29 Mei 2026, PT Pertamina Patra Niaga mengumumkan rencana pembelian secara spot minyak mentah ke RU VI Balongan untuk periode pengiriman bulan 2026,” sebagaimana tertulis dalam dokumen pengumuman pengadaan minyak mentah PPN yang dilihat Bloomberg Technoz.
“Crude oil ESPO Max 315 MB [315.000 barel]. Delivery CFR/DAP RU VI Balongan [Kilang Balongan],” tulis PPN.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengatakan belum dapat memberikan komentar ihwal impor minyak mentah asal Rusia tersebut.
“Khusus untuk hal ini sementara belum bisa saya berkomentar,” kata Laode kepada Bloomberg Technoz, Senin (20/7/2026).
Setala, Corporate Secretary PPN Roberth MV Dumatubun menyatakan belum dapat memberikan tanggapan ihwal pengadaan minyak mentah Rusia tersebut.
“Terkait dengan hal tersebut kami masih menunggu, sehingga kami belum bisa ber-statement,” kata Roberth ketika dihubungi, Senin (20/7/2026).
Adapun, berdasarkan catatan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), jenis minyak mentah ESPO secara konsisten diperdagangkan di atas batas harga (price cap) yang ditetapkan sejumlah negara Barat terhadap minyak mentah Rusia.
CREA mencatat batas harga atau price cap minyak Rusia yang ditetapkan sebesar US$60/barel oleh UE dan turun menjadi US$44,1 per barel mulai 1 Februari 2026 tidak berlaku bagi minyak mentah ESPO.
“Minyak mentah ESPO secara konsisten diperdagangkan jauh di atas batas tersebut karena orientasi strukturalnya ke pasar China dan Pasifik,” tulis CREA dalam catatannya.
Karakteristik ESPO
Sekadar informasi, berdasarkan catatan S&P Global energy, minyak mentah ESPO merupakan crude dari Rusia Timur dan kerap dijual melalui pisa dari Siberia ke wilayah Asia Pasifik.
Minyak mentah tersebut memiliki karakteristik light sweet dengan API gravity sekitar 34–35 derajat dan kandungan sulfur sekitar 0,58%—0,65%.
Adapun, menurut data bea cukai yang dikumpulkan oleh Big Trade Data dan dilansir Bloomberg, hampir 770.000 barel minyak telah dikirim ke Indonesia dengan nilai sekitar US$75 juta.
Pelabuhan muat yang terdaftar adalah Kozmino di Rusia, dan minyak tersebut diangkut dengan kapal tanker Sierra. Kargo Rusia tersebut dibeli oleh Badan Layanan Umum (BLU) Lemigas.
Dalam perkembangannya, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan minyak mentah yang diimpor dari Rusia akan dilakukan pencampuran menjadi Indonesia Blend.
Yuliot mengatakan pengadaan minyak mentah yang dilakukan Indonesia bisa dilakukan dengan skema Indonesia Blend, yakni minyak mentah yang diterima dari pemasok merupakan pasokan hasil pencampuran.
“Untuk pengadaan minyak itu kan ada Indonesia Blend. Indonesia Blend itu kan minyak itu kan melalui supplier yang ada. Jadi supplier yang ada yang kita terima dalam negeri adalah dalam bentuk blending, Nusantara Blending,” kata Yuliot kepada awak media, di Kompleks DPR, Kamis (16/7/2026).
“Kalau untuk kerja sama antarnegara itu mekanismenya adalah melalui BLU sektor energi, jadi kalau BLU sektor energi itu ada yang ini Lemigas,” tegasnya.
Yuliot juga memastikan impor minyak mentah Rusia yang dilakukan Lemigas bakal disimpan pada tangki penyimpanan atau storage tank untuk dijadikan cadangan penyangga energi (CPE).
Kendati begitu, dia belum dapat mengungkapkan lokasi storage yang bakal digunakan untuk menyimpan minyak Rusia.
“Itu menjadi cadangan penyangga energi nasional,” tegas dia.
Dalam kesempatan terpisah, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo pertama kali mengungkapkan Indonesia mendapatkan komitmen pasokan minyak mentah dari Rusia dengan volume total sebesar 150 juta barel.
Komitmen tersebut diamankan Indonesia usai Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan ke Rusia dan bertemu langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Adik Prabowo tersebut mengungkapkan Putin memberikan komitmen kepada Prabowo agar negaranya memasok sekitar 100 juta barel minyak mentah dengan harga khusus dan dapat segera dikirimkan ke Indonesia.
Setelah itu, jika Indonesia membutuhkan tambahan pasokan, maka Rusia juga dapat memasok sekitar 50 juta barel minyak mentah ke Tanah Air.
“Dia [Prabowo] ke Moskwa ketemu Presiden Putin selama 3 jam dan dapat komitmen dari Presiden Putin 100 juta barel minyak itu akan segera dikirim ke Indonesia, 100 juta dengan harga khusus,” kata Hasim dalam agenda Economic Briefing 2026 yang diselenggarakan Garuda TV di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
(wdh)






























