“Rata-rata volume transaksi harian BEI pekan ini turut mengalami kenaikan sebesar 27,75% menjadi 26,17 miliar lembar saham dari 20,49 miliar lembar sahan pada pekan sebelumnya,” kata Kautsar dikutip dari keterangan resmi, Minggu (19/7/2026).
Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian naik 24,60% menjadi 2,33 juta kali transaksi dari 1,87 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya.
Kapitalisasi pasar Bursa juga bertambah 3,95% menjadi Rp10.749 triliun pada akhir pekan ini, dibandingkan Rp10.340 triliun pada pekan sebelumnya.
“Pergerakan IHSG selama sepekan ditutup dengan kenaikan sebesar 4,24% sehingga ditutup pada level 6.175,” kata dia.
Di sisi lain, investor asing mencatat posisi net buy mencapai Rp725,11 miliar di pasar reguler pada perdagangan Jumat (17/7/2026).
Kendati demikian, posisi net sell investor asing masih tercatat Rp91,04 triliun sejak awal tahun.
Sikap Citigroup
Mengutip Bloomberg News, Citigroup memperkirakan rebound jangka pendek pada saham-saham Indonesia seiring dengan membaiknya kebijakan fiskal pemerintah, kebijakan subsidi bahan bakar serta langkah S&P yang mempertahankan peringkat utang Indonesia.
Analis Citigroup, Ferry Wong dan Ryan Davis, dalam catatannya menulis bahwa mereka tetap mempertahankan pandangan hati-hati untuk jangka menengah hingga panjang karena adanya tekanan dari suku bunga yang lebih tinggi, pelemahan rupiah, dan harga minyak yang masih tinggi.
Citigroup menilai risiko penurunan status Indonesia menjadi pasar frontier (frontier market) sangat kecil.
“Skenario dasar kami tetap bahwa MSCI akan mempertahankan status Indonesia sebagai pasar berkembang (emerging market), dengan kemungkinan pencabutan pembekuan (unfreeze) dan masuknya kembali saham-saham yang sebelumnya dikeluarkan pada awal tahun depan.”
Bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets (MSCI EM) telah turun sepanjang tahun lalu, dari 1,18% menjadi 0,46%, akibat pembekuan oleh MSCI, penghapusan sejumlah saham dari indeks, serta penurunan peringkat pasar ASEAN dibandingkan pasar Asia Utara yang diuntungkan oleh tren investasi terkait kecerdasan buatan (AI).
Bobot Indonesia kini lebih rendah dibandingkan Thailand (0,99%) dan Malaysia (0,94%), serta sedikit lebih tinggi dibandingkan Filipina (0,30%).
(fik/naw)





























