Meski demikian, Deschamps menilai Spanyol layak disebut sebagai favorit. Ia memuji solidnya lini pertahanan La Roja yang baru kebobolan satu gol sepanjang enam pertandingan di turnamen ini.
"Kami tahu ini bisa menjadi pertandingan yang sangat spektakuler. Luis de la Fuente dan saya sama-sama tahu bagaimana cara bertahan, tetapi dengan kualitas serangan kedua tim, kami yakin ini akan menjadi pertandingan yang spektakuler," ujarnya.
Sementara itu, pelatih Spanyol Luis de la Fuente menolak anggapan bahwa timnya lebih diunggulkan. Menurutnya, status favorit tidak akan mengubah besarnya tantangan yang dihadapi kedua tim.
"Itu tidak berarti apa-apa. Kami adalah dua tim nasional hebat yang saling berhadapan. Apakah kami difavoritkan atau tidak, itu tidak memberi tekanan tambahan. Kami tetap merasakan tekanan karena ingin memberikan yang terbaik untuk negara kami," kata De la Fuente.
Pelatih berusia 65 tahun itu juga mengingatkan bahwa meraih kemenangan membutuhkan pengorbanan. Ia mengutip ucapan Julius Caesar yang menyebut seseorang tidak bisa menang tanpa melewati penderitaan.
"Julius Caesar selalu mengatakan bahwa Anda tidak bisa menang tanpa penderitaan. Saya setuju dengan itu. Jika Anda ingin mencapai hal-hal besar dalam hidup, Anda harus siap menderita," ujarnya.
Di sisi lain, Prancis datang dengan modal lini depan yang tajam. Les Bleus telah mencetak 16 gol dalam enam pertandingan, dengan Kylian Mbappe menjadi andalan setelah mengoleksi delapan gol dan tiga assist.
Mbappe juga berpeluang memimpin perburuan Sepatu Emas apabila mampu mencetak gol ke gawang Spanyol pada laga semifinal.
(dec)
































