Saat itu, RANS menghimpun transaksi mencapai Rp820,58 miliar yang melibatkan 33,39 juta lot saham. Transaksi itu sebagian besar ditandai dengan tekanan jual yang masif.
PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM) melakukan aksi jual besar-besaran yang menekan performa saham RANS kemarin. TRIM melepas sekitar 6,1 juta lot dengan valuasi mencapai Rp149,1 miliar.
Transaksi broker yang juga membidani IPO RANS itu dilakukan pada rata-rata harga Rp228 per saham.
Adapun, investor asing membukukan posisi jual bersih mencapai Rp39,86 miliar dan posisi beli Rp40,16 miliar.
CGS International Sekuritas Indonesia (YU) turut melakukan aksi jual saham RANS sekitar 1,3 juta lot dengan nilai sekitar Rp36 miliar. Aksi buang barang broker asing itu dilakukan pada harga rata-rata Rp249 per saham.
Merosotnya saham RANS belakangan memperkecil performa setelah debut IPO pada Jumat (10/7/2026). Selepas anjlok, kenaikan saham RANS usai IPO makin susut menjadi 23,5%.
RANS menawarkan harga IPO Rp170 per saham. perseroan menawarkan sebanyak 2,52 miliar saham baru atau setara 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Dengan harga penawaran tersebut, RANS menghimpun dana sebesar Rp429,25 miliar.
Perhitungan TRIM
Sebelumnya, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM) menegaskan valuasi PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) tidak dapat diukur dengan pendekatan yang lazim digunakan pada perusahaan manufaktur.
Managing Director Trimegah Sekuritas David Agus mengatakan, nilai utama RANS terletak pada kemampuan perseroan membangun ekosistem bisnis kreatif yang dapat menghasilkan pendapatan secara berkelanjutan.
David mengatakan esensi bisnis RANS bukan berada pada aset fisik, melainkan kreativitas yang mampu menciptakan pengaruh, membangun basis pengikut (followers), hingga akhirnya dimonetisasi menjadi berbagai lini usaha.
"Esensi RANS adalah kreativitas. Dari kreativitas lahir influence, dari influence lahir followers, dan dari followers kemudian tercipta monetisasi," ujar David saat konferensi pers usai pencatatan saham RANS di Gedung BEI Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Menurut dia, pendekatan tersebut membuat valuasi perusahaan ekonomi kreatif berbeda dengan perusahaan yang mengandalkan aset fisik.
Yang menjadi pertimbangan adalah kemampuan perusahaan membangun ekosistem, memperluas basis audiens, dan mengubah pengaruh menjadi model bisnis yang menghasilkan pendapatan.
David juga menilai risiko bisnis RANS kini makin terdiversifikasi karena sumber pendapatan perseroan tidak lagi bergantung pada satu figur publik.
Dalam kesempatan yang sama, Komisaris RANS Entertainment Indonesia, Darwin Cyril Noerhadi menyampaikan, selama beberapa tahun terakhir perseroan sengaja melakukan transformasi model bisnis untuk mengurangi ketergantungan terhadap pendapatan dari aktivitas brand ambassador.
Kontribusi pendapatan dari lini tersebut, kata Darwin, turun dari sekitar 24% pada 2023 menjadi sekitar 14% pada 2025.
Di sisi lain, kontribusi bisnis berbasis intellectual property (IP), event, produk, serta pemanfaatan data terus meningkat.
"Ini menjadi bukti bahwa perusahaan berhasil mengurangi ketergantungan terhadap individu dan memperkuat sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan," ujarnya.
Darwin menambahkan, selama lima tahun terakhir RANS juga mengevaluasi berbagai lini usaha dan menghentikan bisnis yang dinilai tidak sejalan dengan strategi jangka panjang.
Menurutnya, langkah tersebut justru memperkuat fondasi perseroan sebelum melantai di pasar modal.
"Dana hasil IPO juga akan menjadi sumber pendanaan jangka panjang (long-term funding) untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan," imbuh David.
(red)





























