Pada awalnya, perusahaan ini berfokus pada produksi chip dynamic random-access memory (DRAM) — semikonduktor kecil yang menyimpan sementara data yang perlu diakses dengan cepat oleh prosesor komputer.
Investasi besar-besaran pada pabrik manufaktur dan teknologi pembuatan chip canggih mengubah Hyundai Electronics menjadi salah satu pemasok DRAM terkemuka di dunia pada tahun 1990-an.
Ekspansi agresif ini membuat Hyundai Electronics masuk ke dalam masalah keuangan yang parah ketika krisis keuangan Asia tahun 1997–98 melanda.
Anjloknya harga chip memori dan menumpuknya utang memaksa dilakukannya restrukturisasi besar-besaran di Hyundai Group, dan perusahaan tersebut — yang berganti nama menjadi Hynix Semiconductor pada tahun 2001 sebagai bagian dari perombakan tersebut — menghabiskan sebagian besar dekade berikutnya dengan mengandalkan dana talangan dari para kreditor.
Perusahaan ini hampir dijual kepada pesaingnya dari AS, Micron Technology Inc., pada tahun 2002, tetapi kesepakatan tersebut gagal.
2012 menjadi titik balik. SK Group dari Korea Selatan, sebuah grup bisnis konglomerasi bidang energi dan telekomunikasi, mengakuisisi saham pengendali dari para kreditor Hynix dan mengganti nama perusahaan tersebut menjadi SK Hynix.
Setahun kemudian, pada tahun 2013, perusahaan tersebut, bekerja sama dengan perancang chip AS, Advanced Micro Devices Inc., (AMD) memperkenalkan chip memori bandwidth tinggi atau HBM pertama di dunia. Dengan menumpuk beberapa lapisan DRAM secara vertikal, desain tersebut menghasilkan kecepatan transfer data yang jauh lebih cepat sekaligus mengonsumsi daya yang lebih sedikit.
Alasan SK Hynix jadi berharga
Selama beberapa dekade, bisnis chip memori bersifat teramat siklikal, dengan harga yang naik dan turun sejalan dengan permintaan PC dan perangkat elektronik lainnya.
Laba yang tidak stabil serta melonjaknya biaya pembangunan pabrik semikonduktor memaksa banyak pesaing keluar dari pasar, sehingga industri ini kini didominasi oleh hanya tiga perusahaan: Samsung Electronics dan SK Hynix di Korea Selatan, serta Micron Technology di AS.
Saat ini, chip memori dapat ditemukan di berbagai perangkat, termasuk smartphone dan konsol game, mobil, serta peralatan rumah tangga. Namun, AI-lah yang telah mengubah dinamika ekonomi industri ini. Seiring sistem AI yang semakin besar dan canggih, pusat data mengonsumsi volume memori canggih yang jauh lebih besar, sehingga menciptakan hambatan besar dalam pasokan chip memori.
Produk-produk SK Hynix sangat diminati karena chip HBM yang dipelopori oleh perusahaan ini telah menjadi komponen penting dalam prosesor yang digunakan untuk melatih dan menjalankan platform AI terbesar di AS, seperti Claude dari Anthropic PBC dan ChatGPT dari OpenAI.
SK Hynix merupakan pemasok utama chip HBM untuk Nvidia Corp., perancang dominan dari prosesor tersebut, yang umumnya dikenal sebagai akselerator AI.
Membandingkan SK Hynix dengan para rival
SK Hynix tetap menjadi produsen HBM yang dominan, dengan pangsa pasar global yang diperkirakan mencapai 51%, menurut firma riset pasar TrendForce. Angka tersebut jauh di atas Samsung Electronics, yang memiliki sekitar 26%, dan Micron Technology, dengan sekitar 23%.
Meski demikian, persaingan semakin memanas karena ketiga perusahaan tersebut berinvestasi secara agresif untuk memperluas produksi. Samsung dan SK Hynix telah mengumumkan rencana untuk masing-masing membangun dua pabrik chip baru di Korea Selatan dengan total investasi sebesar 800 triliun won atau setara US$530 miliar. Micron meningkatkan investasinya di AS menjadi US$250 miliar hingga tahun 2035.
Mereka kemudian bersaing untuk menghadirkan memori tercepat dan tercanggih untuk AI. Arena pertarungan berikutnya adalah HBM4, generasi terbaru dari memori bandwidth tinggi, yang menawarkan kinerja lebih tinggi dan kapasitas lebih besar daripada pendahulunya.
HBM4 akan digunakan dalam Vera Rubin, akselerator generasi berikutnya dari Nvidia, yang diharapkan akan menjadi pendorong gelombang berikutnya dari pusat data AI.
Meski Samsung sempat memimpin lebih awal dengan mengirimkan chip HBM4 komersial pertamanya ke Nvidia pada bulan Februari, ketiga produsen memori tersebut kini telah memastikan chip HBM4 mereka memenuhi syarat untuk Vera Rubin dan saat ini sedang dalam tahap produksi, dengan pengiriman sistem AI tersebut direncanakan akan ditingkatkan pada paruh kedua tahun 2026.
Pencatatan saham SK Hynix di AS
Kenaikan pesat SK Hynix telah mendorong perusahaan tersebut untuk mencari basis investor global yang lebih luas melalui pencatatan ADR di bursa Nasdaq, Amerika Serikat.
American depositary receipt, atau ADR, merupakan sertifikat yang diperdagangkan di AS yang mewakili saham perusahaan non-AS. ADR memungkinkan investor untuk membeli dan menjual saham perusahaan asing dalam dolar AS di bursa Amerika tanpa harus bertransaksi langsung di pasar domestik perusahaan tersebut.
Untuk SK Hynix, pencatatan ini diharapkan dapat membuat sahamnya lebih mudah diakses oleh investor global sekaligus mengumpulkan modal untuk mendanai ekspansinya. Menurut pengajuan regulasi perusahaan, dana yang diperoleh akan digunakan untuk membangun pabrik fabrikasi baru dan membeli peralatan manufaktur canggih, termasuk mesin litografi ultraviolet ekstrem (EUV) yang digunakan untuk memproduksi semikonduktor mutakhir.
Setiap ADR mewakili sepersepuluh dari satu saham biasa. SK Hynix mengumpulkan US$26,5 miliar dengan menjual 177,9 juta ADR seharga US$149 per lembar, setara dengan sekitar 2,5% dari nilai pasarnya. Penawaran ini merupakan pencatatan saham terbesar yang pernah dilakukan oleh perusahaan asing di AS.
Pada hari pertama perdagangan, harga penutupan ADR tersebut berada di level sekitar 15% di atas harga saham yang terdaftar di Seoul. Jason Minsang Kam, kepala manajemen ekuitas aktif di Kyobo Life Insurance Co. di Seoul, mengingatkan bahwa saham yang terdaftar di Seoul rentan terhadap aksi ambil untung jangka pendek dan strategi perdagangan lainnya yang bertujuan memanfaatkan perbedaan harga antara pasar AS dan Korea.
(bbn)






























