Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) pada Jumat memperingatkan eskalasi terbaru berisiko menggagalkan upaya pemulihan stok minyak global yang telah menipis pada paruh kedua tahun ini. Kondisi tersebut menjadi pengingat besarnya dampak konflik terhadap perekonomian dunia apabila terus berlanjut.
Hampir tidak ada lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Minggu (12/7). Jalur tersebut biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Hanya dua kapal tanker pengangkut produk minyak yang terpantau mendekati titik sempit jalur pelayaran tersebut.
Meski demikian, Joint Maritime Information Center menyatakan jalur pelayaran di sisi selatan yang dikoordinasikan Oman masih dapat digunakan.
Eskalasi terbaru juga memperkecil peluang tercapainya solusi diplomatik. Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan "era kesepakatan sepihak telah berakhir". Teheran juga menegaskan Washington harus lebih dulu memenuhi komitmen sebelumnya terkait pelayaran di Selat Hormuz dan normalisasi ekspor minyak Iran sebelum perundingan dapat dilanjutkan.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata telah "berakhir", namun menegaskan Washington masih bersedia melanjutkan perundingan.
Pada pukul 06.02 waktu Singapura, kontrak Brent untuk pengiriman September naik 3,4% menjadi US$78,59 per barel. Sementara itu, kontrak WTI untuk pengiriman Agustus menguat 3,4% menjadi US$73,87 per barel.
(bbn)






























