Logo Bloomberg Technoz

Pemulihan yang pesat ini, sebagian besar terjadi sebelum serangkaian serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz pekan ini, menegaskan bahwa negara tersebut terbebas dari batasan yang ditetapkan oleh Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Para pedagang minyak terus memantau dengan cermat seberapa tinggi UEA akan meningkatkan pasokannya, setelah keluar dari kelompok produsen tersebut pada akhir April.

Produksi Minyak Mentah UEA Mencapai Rekor Tertinggi Sepanjang Masa. (Bloomberg)

Negara tersebut telah memulihkan ekspornya ke level sebelum perang bulan lalu, menurut data pelacakan kapal tanker yang dikumpulkan oleh Bloomberg. Arab Saudi, produsen terbesar di kawasan itu, juga hampir mencapai level tersebut karena telah melanjutkan pengiriman dari terminal utama Ras Tanura di Teluk Persia.

Arus yang pulih, bersama dengan perjanjian damai yang rapuh antara Washington dan Teheran yang memungkinkan lonjakan kapal tanker melewati Selat Hormuz, telah membantu mengubah pasar dunia dari kondisi pasokan yang ketat menjadi tanda-tanda kelebihan pasokan di wilayah-wilayah utama, dan menghapus lonjakan harga minyak mentah yang terjadi di masa perang.

Namun, gambaran pemulihan menjadi kabur pada Rabu, ketika Presiden Donald Trump menyatakan gencatan senjata secara efektif batal setelah kedua belah pihak saling melancarkan serangan di kawasan tersebut.

Pasukan AS menyerang sejumlah lokasi di Iran selama dua hari berturut-turut, sementara Teheran menembaki Bahrain dan Kuwait. Harga kontrak berjangka Brent sempat menembus US$80 per barel awal pekan ini, tetapi turun ke level sekitar US$76 per barel pada Jumat.

Produsen utama Teluk lainnya juga meningkatkan produksi bulan lalu, meskibelum mencapai level sebelum perang, menurut IEA. Arab Saudi memproduksi 7,3 juta barel per hari pada Juni, naik 900.000 barel per hari dibandingkan bulan sebelumnya. Produksi Kuwait meningkat menjadi rata-rata 1,4 juta barel per hari, sedangkan Irak menjadi 2 juta barel per hari.   

Meski aliran minyak mentah telah meningkat, aktivitas kilang di Teluk masih lambat merespons, di mana ekspor produk masih kurang dari setengah level sebelum konflik, kata IEA.

(bbn)

No more pages