1. Memberikan rasa senang dan meningkatkan percaya diri
Berhasil menyelesaikan latihan atau mencapai garis finis memicu lonjakan hormon dopamin dan endorfin yang membuat suasana hati lebih baik. Keberhasilan tersebut juga membangun rasa percaya diri karena seseorang mampu membuktikan bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil.
2. Mendapat komunitas baru
Latihan dan perjuangan yang dijalani bersama menciptakan ikatan emosional antarpeserta. Olahraga pun tidak lagi sekadar aktivitas fisik, tetapi juga menjadi sarana membangun pertemanan dan komunitas.
3. Memberikan rasa pencapaian yang nyata
Olahraga kompetitif memiliki indikator yang jelas, seperti catatan waktu, peringkat, atau peningkatan performa dibandingkan latihan sebelumnya. Hal ini membuat seseorang merasa terus mengalami kemajuan secara nyata dan terukur.
4. Menjadi bagian dari gaya hidup
Aktivitas olahraga kini juga menjadi bagian dari identitas dan gaya hidup. Membagikan momen latihan atau saat menyelesaikan perlombaan di media sosial menjadi salah satu cara membangun citra diri sebagai pribadi yang aktif dan sehat.
Di sisi lain, Veronica mengingatkan olahraga berintensitas tinggi juga memiliki risiko jika dilakukan tanpa persiapan yang memadai. Salah satunya adalah gangguan pencernaan yang kerap dialami peserta lomba lari jarak jauh atau Hyrox, termasuk buang air besar tidak disengaja.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat terjadi ketika tubuh bekerja dalam intensitas sangat tinggi sehingga aliran darah dialihkan dari organ pencernaan menuju otot-otot yang sedang aktif bekerja. Akibatnya, kontrol otot sfingter dapat melemah dan ditambah guncangan fisik yang terus-menerus, isi perut bisa keluar secara tidak disengaja.
Karena itu, Veronica mengimbau masyarakat memilih jenis olahraga yang sesuai dengan kondisi fisik dan mental masing-masing, serta tidak memaksakan diri hanya karena mengikuti tren.
(dec)






























