"Jauh lebih besar pengeluaran kelompok ekonomi terbawah. Karena konsumsi rokok lebih banyak pada kelompok menengah ke bawah, akhirnya beban pajak lebih banyak ditanggung oleh anak-anak dari kelompok ekonomi bawah," ujarnya.
Kajian tersebut juga menunjukkan bahwa prevalensi merokok pada anak dari kelompok ekonomi terbawah mencapai sekitar 10%, lebih tinggi dibandingkan kelompok ekonomi tertinggi yang berada di kisaran 6%. Dari sisi konsumsi, anak pada kuintil 1 rata-rata menghabiskan tujuh batang rokok per hari, sedangkan kuintil 5 sekitar lima batang per hari.
Secara keseluruhan, rata-rata konsumsi rokok anak mencapai 5,62 batang per hari atau sekitar 4,16 miliar batang rokok dalam setahun. Menurut Ridhwan, angka tersebut mencerminkan besarnya dana yang dihabiskan anak-anak untuk membeli rokok sekaligus menunjukkan tingginya konsumsi di kalangan remaja.
Ridhwan menilai kondisi tersebut menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk memperkuat kebijakan pengendalian tembakau, termasuk melalui kenaikan tarif cukai hasil tembakau dan menghentikan wacana penjualan rokok murah.
"Ini memerlukan intervensi yang serius, salah satunya melalui peningkatan cukai dan menghapus wacana rokok murah. Karena jelas ketika rokok murah kembali digelontorkan, maka kelompok bawah yang akan paling besar pengeluarannya," tegasnya.
(dec)


























