Sejumlah saham menjadi pendorong penguatan IHSG pada perdagangan siang hari ini. Saham–saham barang baku, saham perindustrian, dan saham infrastruktur mencatatkan kenaikan paling tinggi, dengan masing–masing menguat mencapai 3,81%, 3,21% dan 2,62%.
Kenaikan IHSG yang begitu percaya diri merupakan efek langsung dari melesatnya sejumlah saham big caps. Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg, Jumat (3/7/2026).
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyumbang 22,24 poin
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menyumbang 10,53 poin
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyumbang 10,19 poin
- PT DCI Indonesia (DCII) Tbk menyumbang 9,53 poin
- PT Bank Mandiri (BMRI) Tbk menyumbang 8,23 poin
Adapun saham–saham unggulan LQ45 turut menjadi pendorong penguatan IHSG, saham PT Indosat Tbk (ISAT) melonjak 9,05% dan saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) juga melesat 7,07%. Sama halnya, saham PT AKR Corporindo Tbk (MDKA) juga lompat hingga 6,69%.
Penguatan Nilai Tukar Rupiah
Dari dalam negeri, apresiasi rupiah menjadi sentimen positif bagi IHSG. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah berhasil menguat dan solid di hadapan dolar Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan siang hari ini di pasar spot, US$ 1 setara dengan Rp17.958. Rupiah menguat 0,21% point–to–point.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terus menguat hingga menempati level terkuatnya mencapai Rp17.945/US$ pada perdagangan pagi tadi, hingga memutus pelemahan tiga hari berturut–turut.
Penguatan rupiah hari ini juga menjadi yang terbesar dan paling potensial kelima di Asia, yang bersanding dengan Won Korea Selatan yang menguat nilainya mencapai 0,43%, Baht Thailand juga menguat 0,38%, Ringgit Malaysia berhasil terapresiasi 0,32%, hingga peso Filipina menguat 0,21%.
Rupiah dan valuta Asia nyaman di zona hijau terdorong sentimen dolar AS sedang melemah. Pada perdagangan hari ini, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan 6 mata uang utama dunia) melemah 0,18% di level 100,671, rupiah dan mata uang Asia mampu menguat di tengah kelesuan dolar AS.
Dolar AS terus melemah setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) melambat dan menjadi sentimen munculnya ekspektasi sikap dovish dari Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed).
Semalam, data pasar tenaga kerja AS menunjukkan ekonomi AS mulai kehilangan momentum. Jumlah non–farm payrolls pada Juni hanya bertambah 57.000, jauh lebih rendah dibanding bulan sebelumnya dari penambahan 129.000 pekerja, dan lebih rendah dari ekspektasi pasar yang bertambah 110.000.
Phillip Sekuritas Indonesia menyebut, angka non–farm payrolls bulan Juni ini ini adalah yang terendah dalam empat bulan, setelah tiga bulan berturut-turut mengalami peningkatan yang lebih tinggi dari estimasi.
“Data NFP di bulan Juni ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS tidak menunjukkan tanda-tanda terlalu panas (overheating) sehingga sedikit meredakan kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga secara terburu-buru,” papar Phillip Sekuritas.
Pelaku pasar saat ini sepertinya mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini.
Efeknya, saat rupiah menguat, beban utang luar negeri masing–masing emiten perusahaan akan terpangkas. Apalagi bagi emiten yang mengumpulkan pendapatan dalam rupiah.
Pada nantinya, berpotensi membuat bertambahnya nilai laba bersih perusahaan. Ketika laba emiten mencatat pertumbuhan, investor bisa berharap menikmati datangnya dividen yang memetik keuntungan dari saham.
(fad/wep)



























